Aris Laksono Tekankan Guru NU Wajib Paham Etika Aswaja

Halaqah peran guru Aswaja dalam konteks moderasi beragama dan pendidikan multikultural di aula MAN Model. Tampak ketiga pemateri saat kegiatan berlangsung. Foto istimewa

NPM, MANADO – Sekretaris Jendral Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Dr Aris Laksono menjelaskan, Ahlusunnah Waljamaah An-Nahdliyyah harus dijadikan sebagai etik dalam kehidupan keseharian.

Mengapa demikian, karena ucapan dan tingkah laku dapat dilihat dan diukur bahwa memang dia orang NU.

Hal ini dikatakan di hadapan peserta halaqah peran guru Aswaja dalam konteks moderasi beragama dan pendidikan multikultural di aula MAN Model, kemarin.

Menurut Laksono, jika Aswaja sudah dijadikan kode etik, maka semua yang tertuang dalam Aswaja harus masuk ke dalam jiwa raga.

“Kenapa kita tidak mau menjadi ekstrim, karena ajaran Aswaja sudah tertanam dalam jiwa dan kita senantiasa ingin hidup berdampingan dengan siapa saja,” jelasnya.

Jadi kata Laksono, karena Aswaja sudah dijadikan sebagai penangkal dalam kehidupan maka segala persoalan yang muncul semuanya dapat diatasi.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia ini mengungkapkan, tercatatat sekitar 170.000 kasus anak bermain Judi online.

Sedangkan anak yang nonton film porno tercatat menduduki rangking empat dunia.

Perlu diketahui bahwa kekerasan seksual banyak menimpa anak di Sulut. Perilaku anak makin susah dididik.

Sekarang ditemukan ada anak yang memiliki faham ekstrim yang sudah hilang dasar agamanya.

Terdapat 140 orang anak yang terjebak dalam kasus ini.

Dia berharap agar semua kasus yang terjadi harus kembali pada nilai pendidikan agar jiwa anak bersih kembali kefitrahnya.

“Ajarilah anak kita untuk belajar mendoakan orang tuanya dan para gurunya,” jelasnya.

Sementara itu Dr M Taher Alibe menambahkan, bahwa warga Nahdliyyin itu sangat terbuka dan toleran.

“Orang NU bukan saja mau mengucapkan selamat Hari Natal malahan gerejanya  dijaga,” ungkapnya.

Dosen IAIN ini mengatakan, NU selalu menjaga dan menghormati nilai-nilai yang lama dan merespon hal yang baru.

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Manado Dr Arhanuddin Salim menekankan pentingnya tradisi membaca kitab kuning yang diajarkan guru di pesantren.

Dia juga mengajak agar guru NU senantiasa berada di tengah-tengah masyarakat dan harus paham dengan kondisi saat ini.

“Ada empat pilar yang harus dimiliki seorang guru yaitu perlu memiliki ilmu, awasi anak jangan terlalu banyak bermain gim, awasi perubahan anak setelah mengenal sistim digital dan senantiasa menjaga tradisi NU,” pintanya. (rud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *