NPM, Manado – Suasana ibadah Minggu (8/2) pagi di GMIM Eben Heazer Bumi Beringin Manado terasa berbeda.
Bukan karena kemeriahan, melainkan oleh kehangatan yang lahir dari tawa dan nyanyian anak-anak Sekolah Minggu yang memenuhi ruangan kecil itu.
Di tengah mereka, duduk bukan seorang pejabat, melainkan seorang “Engku”, panggilan kasih bagi pelayan anak di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa.
Sosok itu adalah Yulius Selvanus Komaling, Gubernur Sulawesi Utara.
Tanpa protokoler, tanpa pidato, YSK duduk sejajar dengan anak-anak.
Ia membuka sesi dengan lagu pujian, lalu bercerita dengan bahasa sederhana.
Sesekali ia bertanya, mendengar jawaban polos yang memancing tawa, sebelum menyelipkan pesan iman yang mudah dipahami.
Sesi pagi itu ditutup dengan doa bersama, sederhana, hangat dan penuh makna.
Bagi YSK, pelayanan anak bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia pernah menjadi guru Sekolah Minggu jauh sebelum memimpin daerah.
Dunia pelayanan itulah yang membentuk kedekatannya dengan anak-anak dan keyakinannya bahwa masa depan daerah bertumbuh dari iman dan karakter yang ditanam sejak dini.
Bagi jemaat GMIM, panggilan Engku bukan sekadar sebutan, melainkan simbol ketulusan dalam melayani.
Saat itu, jemaat melihat sisi lain seorang pemimpin bukan di balik meja birokrasi, bukan di atas podium, tetapi di bangku kecil, berbagi cerita dengan anak-anak.
Beberapa jemaat tampak mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.
Bukan karena sensasi, melainkan karena haru menyaksikan pemimpin daerah yang kembali ke ruang pelayanan paling sederhana.
Di tengah padatnya urusan pemerintahan, Minggu pagi itu menghadirkan pesan yang lembut namun kuat, kepemimpinan tidak selalu lahir dari pidato besar, tetapi dari kesediaan untuk duduk sejajar, mendengar, dan melayani dengan hati.
YSK tidak datang sebagai pejabat.
Ia pulang sebagai dirinya yang lama
seorang guru, seorang pelayan, seorang Engku Sekolah Minggu. (*/don)













