NPM, MANADO – Kenaikan harga beras menjadi perhatian Wakil Ketua DPRD Sulut Michaela Elsiana Paruntu.
Pasalnya, banyak masyarakat yang mengeluh terkait kenaikan harga beras.
“Harusnya Sulut sebagai salah satu daerah penghasil beras tidak akan terpengaruh dengan kenaikan. Tapi ini malah sangat terasa kenaikannya,” ujar Paruntu saat rapat Komisi II dengan Dinas Pangan Sulut, (14/7) di ruang rapat Komisi II DPRD Sulut.
Ironisnya, daerah penghasil beras seperti Bolmong juga mengeluhkan soal kenaikan beras.
Paruntu juga memertanyakan penyebab kenaikan beras. “Apakah lahan kurang ataukah memang sudah ada alih fungsi dari lahan sawah pindah ke nilam, ataukah kurang edukasi,” ujarnya.
Menjawab hal itu, Kepala Dinas Pangan Provinsi Sulut Franky Tintingon mengakui adanya penurunan produksi beras. “Memang ada penurunan yang disebabkan karena beberapa hal,” terangnya.
Lanjutnya, beberapa faktor itu adalah musim hujan, kedua ada hama tikus, ketiga para petani di daerah Dumoga itu menggunakan bibit lokal jadi dari bibit ke bibit sehingga produksi beras dalam satu hektar itu hanya berkisar 2-3 ton.
Pihaknya memiliki petugas yang selalu memantau ketersediaan dan kebutuhan pangan strategis di tingkat Provinsi Sulut.
“Untuk bulan juli dapat kami laporkan juga untuk proyeksi kebutuhan perbulan untuk untuk beras medium 12 ribu. Kebutuhan sampai 14. 900 dan untuk proyeksi kebutuhan pangan beras di Provinsi Sulawesi Utara perbulan ada di kisaran 24.988 ton per bulan untuk konsumsi beras Sulut dan untuk ke produksi di bulan juli kita ada di kisaran 8.724 ton,” (rud)