NPM, Amurang – Sebagai awal dari Masa Prapaskah, umat Katolik memulai masa tobat dengan menjalankan puasa dan pantang sebagai bentuk refleksi dan pertobatan diri.
Misa Rabu Abu di Paroki Kebangkitan Kristus Amurang sebagai tanda dimulainya Masa Prapaskah dipimpin Pastor Paroki RD. Paulus Canisius Rumondor MSC.
Dalam homilinya, Pastor Canisius mengajak umat memaknai Masa Prapaskah sebagai kesempatan untuk berbenah diri dan kembali kepada martabat manusia sebagai citra Allah.
“Masa Prapaskah adalah masa membenah diri dan kembali kepada yang semestinya, kembali pada martabat kita sebagai gambaran Allah. Melalui masa ini, kita diingatkan untuk kembali sebagai citra Allah,” ungkapnya.
Ia menegaskan Prapaskah merupakan masa pertobatan bagi seluruh umat beriman, para imam, uskup, hingga Paus sebagai pemimpin Gereja.
Setiap orang diajak menyadari kelemahan dan dosa untuk didamaikan kembali dengan Allah.
Pastor Canisius juga menekankan bahwa puasa dan pantang bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan sarana menjernihkan doa dan membangun persekutuan yang lebih erat dengan Tuhan.
“Doa menghantar hati dan pikiran kita kepada Tuhan yang adalah sumber keselamatan,” tuturnya.
Masa Prapaskah, lanjut Pastor Canisius, umat Katolik kembali diajak untuk memperhatikan orang-orang kecil yang butuh pertolongan dan berbuat baik kepada orang lain.
“Bapak, Ibu, saudara-saudari terkasih, di awal Masa Prapaskah ini mari kita membangun niat dan melakukan hal-hal yang baik. Rabu Abu mengingatkan kita akan kedosaan, mengingatkan kita akan asal manusia dari debu dan akan kembali menjadi debu. Bertobatlah dan kembali kepada Injil,” tutupnya.
Setelah liturgi sabda, umat menerima abu yang ditandai di dahi sebagai simbol kefanaan dan pertobatan.
Rabu Abu adalah momen di mana umat Katolik diajak untuk merenungkan kehidupan mereka dan kembali kepada Tuhan melalui pertobatan.
Dalam Misa Rabu Abu, imam dan petugas di gereja akan menorehkan abu pada dahi umat sambil mengucapkan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Buds)













