NPM,MANADO- Pantai Liang dibersihkan warga. Kawasan konservasi dikelola negara. Lalu di mana sebenarnya peran pengelola taman nasional?
Pertanyaan itu mencuat di tengah kondisi Pantai Liang, Pulau Bunaken, yang hingga kini masih menghadapi persoalan sampah tanpa terlihat adanya langkah nyata dari pihak pengelola kawasan, Balai Taman Nasional Bunaken.

Ironisnya, pantai yang berada di kawasan Taman Nasional Bunaken tersebut merupakan salah satu destinasi wisata unggulan yang selama ini menjadi wajah pariwisata bahari Sulawesi Utara di mata dunia.
Namun di lapangan, penanganan kebersihan pantai justru lebih banyak dilakukan oleh pengusaha cottage di sekitar kawasan serta dukungan dari Pemerintah Kecamatan Bunaken Kepulauan.
Situasi ini terasa kontras dengan upaya promosi pariwisata yang terus digencarkan pemerintah daerah. Belum lama ini, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara Devi Tanos diketahui baru kembali dari kegiatan promosi pariwisata di Eropa yang salah satu fokusnya adalah memperkenalkan Bunaken kepada pasar internasional.
“Bunaken dipromosikan ke luar negeri, tetapi salah satu pantainya justru terlihat kurang terurus,” ujar sejumlah warga Bunaken yang menyoroti kondisi tersebut.
Di tengah kondisi itu, sejumlah simpul masyarakat terlihat berupaya menjaga kebersihan pantai secara swadaya. Beberapa di antaranya seperti Lusye B bersama Arjun Langitan, instruktur selam sekaligus anggota NGO North Sulawesi Tourism Institute, serta Amelia Tungka, terlihat ikut membantu kegiatan pembersihan sampah di kawasan Pantai Liang.

Namun hingga kini, belum terdengar adanya langkah terstruktur dari pihak Balai Taman Nasional Bunaken sebagai pengelola kawasan konservasi.
Camat Bunaken Kepulauan Imanuel Mandak juga menyayangkan belum optimalnya peran pengelola kawasan dalam menjaga kebersihan pantai tersebut.
Menurutnya, dengan panjang garis pantai Liang yang cukup luas, pengelolaan kebersihan membutuhkan tenaga khusus yang bekerja secara rutin.
“Dengan panjang garis Pantai Liang, seharusnya paling kurang ada 15 orang penyapu pantai setiap hari. Itu mestinya disiapkan oleh pihak pengelola kawasan, yaitu BTNB, agar Pantai Liang bisa bersih setiap hari seperti pantai di wilayah pemukiman,” ujar Mandak.
Pantai Liang selama ini dikenal sebagai salah satu titik favorit wisatawan di Pulau Bunaken. Hamparan pasir putih serta panorama laut yang indah menjadikannya lokasi yang kerap dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Karena itu, persoalan kebersihan kawasan bukan sekadar masalah lokal, tetapi juga menyangkut citra Bunaken sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia.
Di tengah kondisi ini, masyarakat berharap perhatian lebih serius dari pihak pengelola kawasan konservasi agar pengelolaan kebersihan Pantai Liang dapat dilakukan secara rutin, terstruktur, serta didukung sistem pengangkutan sampah yang memadai.
Sebab bagi warga Bunaken, menjaga Pantai Liang bukan sekadar soal membersihkan sampah di tepi pantai.
Lebih dari itu, ini adalah soal menjaga martabat sebuah kawasan konservasi yang selama ini dikenal dunia sebagai salah satu taman laut terbaik di Indonesia.
Dan jika Bunaken terus digaungkan ke panggung internasional, maka pengelolaan kawasan di tingkat lokal semestinya berjalan seiring—agar kebanggaan itu tidak berhenti pada promosi, tetapi juga nyata dalam pengelolaan.
(ROGAM)













