Oleh : Dr. Drevy Malalantang S.Si SE M.Pd
(Tim Ahli Gubernur Sulawesi Utara)
Pariwisata Sulawesi Utara dibawah Kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE. terus menunjukkan akselerasi yang signifikan sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Dengan karakter wilayah kepulauan yang terdiri dari 382 pulau dan dominasi wilayah laut mencapai 73,25% dari total luas 14.488 km², Sulawesi Utara memiliki keunggulan strategis dalam pengembangan pariwisata bahari, ekowisata, MICE dan wisata berbasis budaya.
Secara demografis, Sulawesi Utara memiliki jumlah penduduk 2.772.440 jiwa yang tersebar di 15 kabupaten/kota, 171 kecamatan, dan 1.839 desa/kelurahan, serta didukung keberagaman tiga suku besar yang menjadi fondasi kekuatan budaya lokal.
Dari sisi makro ekonomi, kinerja tahun 2025 menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan ekonomi 5,66%, IPM 76,32, serta realisasi investasi mencapai Rp 10,2 triliun termasuk PMA Rp 4,1 triliun.
Sektor pariwisata Sulut, mencatat 61.495 wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung sepanjang 2025, didominasi pasar dari Tiongkok, Korea Selatan, Singapura, Amerika Serikat, hingga Jerman.
Sementara itu, wisatawan nusantara (wisnus) mencatat capaian luar biasa dengan total 14.350.000 perjalanan pada tahun 2025, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah kunjungan domestik ke Sulawesi Utara.
Sebagai pembanding, capaian tertinggi sebelumnya terjadi pada tahun 2024 dengan sekitar 10,2 juta wisatawan nusantara, sehingga menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan dan mempertegas kekuatan pasar domestik sebagai tulang punggung pariwisata daerah.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan tren yang semakin kuat. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara, kunjungan wisatawan mancanegara bulanan mencapai rekor baru pada Januari 2026 sebesar 7.550 wisman, yang merupakan angka bulanan tertinggi sepanjang sejarah.
Sebelumnya, Desember 2025 mencatat 7.020 wisman, menunjukkan tren kenaikan yang konsisten.
Secara historis, tahun 2019 mencatat rekor tahunan tertinggi sekitar 130.000 wisman. Namun, periode 2025–2026 kini berada pada fase rebound kuat, dengan kecenderungan menuju high value tourism.
Dengan tren pertumbuhan yang berkelanjutan, tahun 2026 berpotensi besar melampaui capaian tahun 2019. Momentum ini dinilai lebih sehat karena wisatawan semakin beragam yakni charter flight, dan didukung oleh penerbangan reguler (scheduled flight) yang lebih berkelanjutan.
Strategi daya saing dilakukan melalui penguatan peningkatan konektivitas dan diversifikasi pasar melalui Bandara Internasional Sam Ratulangi.
Konektivitas udara internasional kini semakin kuat dengan adanya penerbangan langsung oleh TransNusa yang melayani rute Shenzhen, Guangzhou, Shanghai, dan Nanjing (Tiongkok) ke Manado; China Southern Airlines rute Guangzhou–Manado; Lucky Air rute Kunming–Manado; Scoot (Scoot Tiger Air) rute Singapura–Manado; serta Eastar Jet rute Incheon (Seoul)–Manado, serta Taiwan Japan dan Philipina yang menyusul dibuka.
Jalur laut diperkuat melalui kunjungan kapal pesiar Internasional di pelabuhan Bitung seperti MV Vasco da Gama, MS Noordam, dan MV Seabourn Quest. Pengembangan sektor pariwisata ini mengacu pada RIPPARPROV dengan adanya 39 Kawasan Strategis Pariwisata.
Berbagai destinasi unggulan, mulai dari wisata alam, pulau, bahari, danau, pegunungan, hingga budaya dan wisata buatan, yang tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Utara menjadi pilar utama pengembangan destinasi dan diversifikasi produk dan atraksi wisata yang terus dibenahi dan dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara masa Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE.
Selain itu, kontribusi kunjungan juga diperkuat oleh daya tarik atraksi lain seperti event (MICE), special interest tourism, dan sport tourism.
Angka kunjungan wisatawan berpotensi semakin melejit apabila aset dan potensi destinasi di berbagai wilayah seperti sebagian besar Minahasa, kawasan kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud, serta Bolaang Mongondow terus dibenahi dikemas dan dipromosikan ini akan menjadi magnet baru pariwisata Sulawesi Utara.
Dengan tren kunjungan yang terus meningkat, baik wisatawan mancanegara maupun Nusantara/Nasional serta dukungan aksesibilitas internasional yang semakin luas, terdapat optimisme kuat bahwa angka kunjungan wisatawan Sulawesi Utara akan melampaui capaian tertinggi kunjungan sebelum pandemi COVID-19.
Sektor pedukung pariwisata seperti Ekonomi kreatif juga mengalami transformasi besar, menjadi motor pertumbuhan berbasis inovasi dan budaya. Target peningkatan nilai tambah dari Rp 20,5 miliar menjadi Rp 304,6 miliar mencerminkan lompatan besar sektor ini.
Dampak terhadap UMKM dan ekonomi kreatif sangat luas, menciptakan permintaan langsung, rantai nilai ekonomi, serta multiplier effect. Melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), sebanyak 2.894 debitur terserap pada 2025, memperkuat sektor jasa, perhotelan, dan ekraf. Performa sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM menunjukkan loncatan tren yang positif dan signifikan.
Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah kunjungan, penguatan konektivitas global, serta pertumbuhan ekonomi lokal yang semakin inklusif.
Last but not least Data BPS yang baru saja dirilis tercatat Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Maret 2026 mencapai 11.517 kunjungan, naik 161,33 persen year-on-year (yoy). berikut Tingkat Penghunian Kamar di hotel bintang pada Maret 2026 mencapai 43,28 persen, naik 9,82 poin (yoy). Jumlah perjalanan wisatawan nasional/wisnas pada Maret 2026 mencapai 1.502 perjalanan, naik 23,93 persen (yoy).
Jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Maret 2026 mencapai 1.295.077 perjalanan, naik 35,66 persen (yoy) maka dengan momentum yang kuat, struktur pasar yang semakin sehat, dan strategi pembangunan yang terarah, Sulawesi Utara berada pada jalur menuju destinasi pariwisata yang akan terus dilirik wisatawan dunia dan secara meyakinkan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Asia Pasifik. (**)













