Oleh: Arianto Batara, Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Sulawesi Utara
Menggugat Miskonsepsi Mandat yang di Mandatkan merupakan pemandangan jamak setiap hari di gerbang-gerbang sekolah, kita menyaksikan (atau kita pelakunya) ritual rutin : orang tua mengantarkan anak-anak, menyerahkan tas punggung yang berat beserta perlengkapannya.
Peristiwa ini merupaakn peristiwa yang berbahaya jika sekaligus merupakan simbolisasi penyerahan tanggung jawab pendidikan buah hati dari orang tua kepada sekolah sebagai institusi.
Situasi masyarakat modern yang serba cepat, menghadirkan fenomena yang memprihatinkan pada sebagian keluarga, sekolah perlahan-lahan dianggap sebagai “bengkel” pendidikan.
Orang tua datang membawa anak yang dianggap “kurang” secara akademis maupun karakter, dengan harapan sekolah akan mengembalikan dalam kondisi yang baik, dan memiliki prestasi akademik.
Namun, apakah pendidikan sepenuhnya dapat dimandatkan dari orang tua kepada sekolah? Pada kenyataannya, kita sedang menghadapi paradoks modernitas.
Di era dengan akses terhadap informasi begitu mudah karena ketersediaan teknologi, kedekatan emosional antara orang tua dan anak justru sering kali mengalami distorsi.
Tersitanya waktu untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dan adanya distraksi digital membuat peran orang tua tereduksi hanya sebagai penyedia kebutuhan (provider) dan pengantar jemput (driver).
Sering kali orang tua melupakan bahwa sekolah hanyalah mitra; guru hanyalah fasilitator dalam durasi waktu yang tidak lama.
Sejatinya peran yang melekat pada orang tua dalam pendidikan bertumpu pada tiga pilar, yaitu Pendidik Pertama: sebelum anak mengenal alfabet dan numerik, mereka telah mengenal suara dan ekspresi wajah orang tua, terutama ibunya.
Sebelum mereka belajar hukum fisika, mereka telah belajar hukum sebab-akibat melalui reaksi ayahnya.
Rumah adalah sekolah pertama tempat fondasi karakter dan budaya diletakkan. Pendidik Utama: Nilai keyakinan hidup yang hakiki seperti kejujuran, integritas, keterbukaan dan empati tidak mungkin diajarkan hanya melalui rencana pelaksanaan pembelajaran semata.
Nilai keyakinan ini mewarnai suasana di dalam rumah. Tanpa keterlibatan orang tua, pendidikan di sekolah hanya akan menjadi pemindahan ilmu pengetahuan tanpa pembentukan jiwa yang tulus.
Pendidik Terlama: Guru di sekolah dapat berganti setiap tahun ajaran, kurikulum dapat berubah sejalan pergantian kebijakan, namun yang tetap adalah orang tua yang merupakan kurikulum sepanjang hayat dikandung badan.
Orang tua akan mendampingi anak dalam fase kehidupan balita, remaja, hingga dewasa.
– Menjalankan Peran sebagai Pendidik di Rumah
Menjalankan peran sebagai pendidik bukan berarti orang tua harus menguasai semua mata pelajaran dan mengajarkannya di rumah. Peran pendidik dalam hal ini lebih mendekati peran sebagai arsitek jiwa. Berikut adalah empat peran strategis yang harus diperankan kembali oleh orang tua:
1. Orang Tua sebagai Teladan Karakter (The Role Model)
Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka mungkin pada beberapa kesempatan akan mengabaikan nasihat oarnag tuanya, tetapi mereka tidak pernah gagal meniru perilaku orang tua. Pendidikan karakter akan paling efektif diajarkan melalui keteladanan, bukan sekadar instruksi.
Sebagai contoh: Jika kita ingin menanamkan budaya literasi agar anak tidak kecanduan gawai, maka orang tua harus menciptakan momen orang tua memegang (membaca) buku.
Ketika anak melihat ayahnya membaca buku atau ibunya membaca novel dengan serius, situasi ini sedang mengirim pesan dalam ingatan mereka bahwa “membaca adalah aktivitas yang berharga, maka layak diperjuangkan”.
2. Fasilitator Lingkungan Belajar yang Aman (The Environment Creator)
– Tujuan mendidik anak adalah agar mereka siap hidup bermasyarakat. Rumah harus menjadi laboratorium menyiapkan generasi memasuki kehidupan sesungguhnya. Orang tua bertugas menciptakan momen yang membangkitkan rasa ingin tahu (curiosity) dan keberanian untuk bertanya dan berpendapat. Contoh: Ubahlah meja makan atau ruang tamu menjadi ruang diskusi. Kurangi pertanyaan “Dapat nilai berapa hari ini?”, sebaiknya orang tua dapat mengemukakan, “Hal menarik apa yang kamu pelajari hari ini?” atau “Ada tidak hal yang membuatmu kesal di sekolah tadi?”. Memberikan ruang bagi anak untuk berpendapat tanpa takut disalahkan, orang tua sedang melatih kemampuan berpikir kritis dan membangun kepercayaan diri anak.
3. Pendamping Emosional dan Spiritual (The Emotional Anchor)
– Pada situasi tuntutan akademik yang tinggi, anak sering kali mengalami tekanan mental. Orang tua berperan sebagai pendamping dalam membantu anak meregulasi emosi yang memastikan anak tetap tangguh (resilient).
Sebagai contoh: Saat anak gagal dalam sebuah kompetisi atau mendapatkan nilai kurang, peran orang tua bukan untuk memarahi, melainkan membantu anak merefleksikan kegagalan tersebut.
Memberikan apresiasi dan dukungan secara verbal dan ditunjuk dengan Tindakan nyata akan menanamkan growth mindset, pola pikir bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha yang optimal. Bangkit apabila mengalami kegagalan.
4. Kurator Nilai dan Budaya (The Value Guardian)
– Di era globalisasi yang tanpa batas, anak-anak terpapar dengan berbagai nilai yang bisa saja bertentangan dengan norma keluarga atau bangsa. Orang tua berperan sebagai filter atau kurator yang membantu anak memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
Orang tua harus menjadi teman yang akuntabel bagi anak. Contoh: Melibatkan anak dalam kegiatan sosial atau gotong royong di lingkungan rumah.
Dengan mengajak anak membersihkan selokan bersama tetangga atau berbagi makanan dengan yang membutuhkan, orang tua sedang mengajarkan nilai kemanusiaan dan empati secara nyata.
– Sinergi dan Partisipasi Semesta
Sebagai penutup, kita perlu merenungkan kembali sebuah ungkapan bijak dari Afrika: “It takes a village to raise a child”, dibutuhkan peran satu kampung untuk mendidik seorang anak. Ungkapan ini mengandung kebenaran mendalam bahwa pendidikan bukanlah tugas sektoral yang hanya dikerjakan sendirian oleh satu pihak.
Meskipun orang tua adalah pendidik utama, mereka membutuhkan dukungan dari ekosistem yang sehat: guru yang kompeten di sekolah, tetangga yang saling menjaga, hingga kebijakan pemerintah yang berpihak pada perlindungan anak.
Keberhasilan pendidikan seorang anak adalah akumulasi dari kepedulian setiap stakeholder di sekelilingnya. Hal ini sejalan dengan strategi yang diusung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Partisipasi Semesta.
Konsep ini menekankan bahwa untuk mencapai pendidikan bermutu untuk semua, diperlukan gerakan semesta di mana seluruh elemen bangsa, yaitu pemerintah, sekolah, dunia usaha, dan yang paling krusial adalah keluarga, bergerak bersama.
Tidak ada satu pun anak yang boleh tertinggal, dan itu dimulai dari kesadaran orang tua untuk kembali mengambil peran dalam pendidikan di rumah.
Transformasi Pendidikan tidak akan pernah mencapai puncaknya jika pola pendidikan di rumah terabaikan. Pendidikan adalah investasi waktu, kasih sayang, dan keteladanan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Mari kita jadikan momentum ini untuk pulang ke rumah dan berkomitmen mengembalikan peran kita sebagai pendidik.
Dengan demikian, akan meenciptakan ingatan anak-anak kita, bahwa kitalah guru terbaik yang pernah mereka miliki. (***)













