Manado  

Kesehatan Mental Sangat Berperan Terhadap Kualitas Hidup Seseorang

Ist

Oleh: dr. Theresia M.D. Kaunang, Sp.KJ
Spesialis Kedokteran Jiwa atau Psikiatri, sub spesialis anak dan remaja

MANADO – Tahun baru 2026 bagi setiap individu pasti berkeinginan untuk menjadi lebih baik.

Setiap individu secara normal akan menjadikan kehidupan di tahun yang baru dengan semangat baru dan motivasi baru.

Demikian juga dengan kesehatan. Tentunya, doa-doa akan selalu menyebutkan dalam keadaan sehat.

Kesehatan yang komprehensif dan terintegrasi menyangkut kesehatan fisik dan mental. Kesehatan yang hanya fokus pada kesehatan fisik saja.

Hal tersebut merupakan pemikiran kuno. Karena kita ketahui bahwa terapi kesehatan fisik tanpa mempertimbangkan kesehatan mental adalah sia- sia.

Karena kesehatan, mental berperan pada kesehatan fisik. Berat ringan kesehatan fisik dipengaruhi oleh kesehatan mental.

Seorang pasien yang menderita kanker, maka akan cepat menjadi berat dan cepat mati jika ksehatan mentalnya tidak baik.

Seorang individu yang menjalani hemodialisis atau cuci darah, akan menjadi lebih berat kondisinya jika bertumpang tindih dengan depresi.

Peran kesehatan mental tidak bisa dipungkiri mendukung keberhasilan suatu terapi penyakit fisik.

Demikian juga terhadap kekebalan tubuh sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan mental.

Hormon kortisol adalah hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal berfungsi sebagai respons tubuh terhadap stres. Hormon kortisol dijuluki sebagai “hormon stres” karena kadarnya akan meningkat saat stres.

Fungsi hormon kortisol yaitu akan meredam peradangan dalam jangka pendek dan jangka panjang dapat menekan imun.

Terintegrasinya tatalaksana kesehatan fisik dan mental pada individu akan menjadikan kondisi paripurna pada kesehatan manusia.

Kesehatan mental sangat berperan terhadap kualitas hidup seseorang. Namun, akibat adanya stigma di Indonesia maka kesehatan mental seringkali terabaikan sehingga individu menjadi kurang peka dengan kesehatan mental.

Di lain kesehatan mental pada gen z menjadi over assessment dan over diagnosed ataupun terjadi self diagnose pada generasi gen z.

Akibatnya, banyak pekerja gen z selalu minta banyak “healing” akibat merasa kesehatan mentalnya kurang memadai sehingga kualitas kinerja menjadi turun karena terlalu banyak “healing”.

Misalnya, putus pacar harus minta atasan memahami dan minta off 2 minggu untuk “healing” karena sedang “down”.

Sementara jika hal ini terjadi pada generasi sebelumnya, yang memiliki kekuatan/ketahanan mental lebih baik, menganggap putus pacar sebagai hal biasa.

Kekambuhan gangguan kesehatan mental akan terjadi berulang akibat yang bersangkutan terlena dengan treatment yang bisa jadi keliru.

Strategi koping dari gen z akan kurang berfungsi karena banyak hal yang berperan.

Era digitalisasi yang menawarkan banyak pilihan di era sekarangpun menjadi salah satu faktor banyak terjadi masalah kesehatan mental dalam masyarakat.

Ketergantungan akan gadgetpun tak dapat dihindari dan malah merasa itu bukan merupakan suatu gangguan sehingga deteksi dini gangguan/ketergantungan gadget menjadi tertunda atau terlambat bahkan sudah memburuk baru datang mencari pertolongan.

Bangsa kita mengalami banyak bencana di prnghujung tahun 2025 dn awal tahun 2026.

Kondisi ini sebetulnya sangat korelasi dengan fokus pada hari kesehatan mental 2025 yaitu akses terhadao layanan kesehatan mental dalam bencana dan keadaan darurat”.

Harapan tentunya dapat mengikis stigma terhadap masalah kesehatan mental atau gangguan jiwa.

Akses layanan kesehatan mental yang mudah diakses, inkulsif, merata terutama bagi korban krisis, bencana, anak muda guna membangun ketangguhan masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *