NPM, Minahasa – Pemerintah menargetkan revitalisasi besar-besaran terhadap puluhan ribu sekolah di seluruh Indonesia pada 2026 sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd menyampaikan, total sekitar 71.000 satuan pendidikan akan direvitalisasi dan dibangun pada tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan saat peresmian program revitalisasi satuan pendidikan di SMK Negeri 3 Tondano, Sulawesi Utara, Rabu (22/4/2026), yang merupakan bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional,” kata Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti menjelaskan, program revitalisasi mencakup pembangunan unit sekolah baru serta perbaikan sarana dan prasarana pendidikan yang dinilai masih belum merata di berbagai daerah.
Pada 2025, pemerintah telah merealisasikan revitalisasi sebanyak 16.167 satuan pendidikan, termasuk distribusi perangkat pembelajaran digital seperti interactive flat panel (IFP).
Sementara itu, pada 2026 pemerintah mengalokasikan program revitalisasi melalui APBN yang kemudian diperluas hingga mencapai puluhan ribu sekolah.
Program ini dinilai penting, terutama bagi daerah yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan, termasuk wilayah terpencil dan perbatasan.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga memperkuat dukungan terhadap tenaga pendidik dan peserta didik.
Beberapa kebijakan yang disiapkan antara lain:
1. Insentif guru honorer sebesar Rp400.000 per bulan
2. Tunjangan sertifikasi guru non-ASN meningkat menjadi Rp2 juta
3. Program Indonesia Pintar (PIP) menjangkau 19,6 juta siswa
4. Bantuan PIP untuk siswa taman kanak-kanak
5. Beasiswa S1 bagi guru melalui skema rekognisi pembelajaran lampau (RPL)
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi infrastruktur.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya membangun budaya sekolah melalui program “Sekolah ASRI”.
Program ini menitikberatkan pada lingkungan belajar yang:
1. Aman dari perundungan dan kekerasan
2. sehat secara fisik dan mental
3. Bersih serta ramah lingkungan
4. Nyaman dan mendukung proses belajar
“Lingkungan sekolah yang aman dan sehat menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik,” ujarnya.
Untuk pelaksanaan 2026, pemerintah menetapkan tiga prioritas utama dalam program revitalisasi:
1. Sekolah di daerah terdampak bencana
2. Wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar)
3. Sekolah dengan kondisi rusak berat
Program ini diharapkan dapat memberikan dampak langsung bagi jutaan siswa di seluruh Indonesia, khususnya dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak dan berkualitas.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan pemerataan akses pendidikan di berbagai daerah.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan ketertarikannya untuk kembali mengunjungi wilayah Sulawesi Utara, termasuk daerah perbatasan, guna melihat langsung kondisi sekolah di lapangan. (dio)













