NPM, Manado – Dekan Fisip Unsrat Ferry Daud Liando mengusulkan cara tak biasa dalam pemberantasan korupsi. Ia meminta para mantan koruptor dikumpulkan dalam sebuah seminar untuk dimintai gagasan terkait penyusunan UU Anti Korupsi yang efektif.
Usulan itu disampaikan Liando saat menjadi narasumber pada Seminar Akuntabilitas Pengelolaan Dana Kedaruratan Bencana di Kawasan 3T, Menutup Celah Korupsi pada Program Kemanusiaan Kepulauan yang digelar Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara di Kampus Politeknik Negeri Manado, Selasa (1/9/2026).
Hadir Kajati Sulut Hendrik Jacob Pettypelohi, para Kajari, Sekda Kabupaten/Kota, dan para Kepala Dinas se-Sulut.
Liando menilai berbagai cara yang sudah dilakukan pemerintah, mulai dari pembentukan KPK, perbaikan UU Korupsi, hingga penguatan APH belum efektif.
“Banyak cara sudah kita lakukan untuk mencegah, namun cara-cara itu belum efektif, buktinya koruptor masih merajalela. Kita perlu strategi lain. Mungkin dengan pendekatan welfare state, bisa mengurangi angka korupsi,” kata Liando.
Menurutnya, konsep welfare state atau negara kesejahteraan seperti di Denmark, Finlandia, dan Norwegia membuat rakyat tidak perlu menumpuk harta untuk jaminan masa depan. Pendidikan, kesehatan, rumah, hingga lapangan kerja ditanggung negara.
“Di Indonesia, banyak terjadi korupsi karena pelakunya takut masa depan anak-anaknya sulit. Sehingga mengumpulkan harta dengan segala cara termasuk korupsi untuk jaminan masa depan,” ujarnya.
Karena itu ia mengusulkan pendekatan unik. Sebab, selama ini pembuat undang-undang anti korupsi adalah mereka yang belum pernah punya pengalaman melakukan tindakan kejahatan korupsi, sehingga tindakan pencegahan sulit dilakukan.
“Kalau perlu para mantan koruptor harus diberikan kesempatan untuk memberikan testimoni kepada para kepala daerah atau para pejabat tentang tindakan-tindakan apa yang harus dihindari agar tidak terjebak pada tindakan korupsi,” tegas Liando.
Ia menambahkan, kejahatan korupsi berawal dari niat jahat atau mens rea dari pelaku.
“Maka penting mengetahui motif-motif itu untuk deteksi dini dan pencegahan,” pungkas Liando (don)













