NPM, Manado – Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) mengukuhkan 10 guru besar. Pengukuhan itu dilakukan dalam momentum sidang terbuka senat di Auditorium Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo Universitas Sam Ratulangi, Kamis (07/05/2025).
Pengukuhan yang dipimpin Rektor Unsrat, Prof Oktovian B.A. Sompie menandai langkah besar dalam pengembangan dan penguatan kapasitas akademik salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Sulawesi Utara.
Kesepuluh guru besar yang dikukuhkan berasal dari berbagai fakultas yang berbeda.
Fakultas Teknik:
Prof. Ir. Steenie E. Wallah, M.Sc, PhD, IPU Prof. Dr. Ir. Tiny Mananoma, MT, IPM, ASEAN Eng.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam:
Prof. Dr. Dolfie P. Pandara, S.Pd, M.Si dan Prof. Dr. Dra. Henny L. Rampe, M.Si
Fakultas Ekonomi dan Bisnis:
Prof. Joy E. Tulung, SE, MSc, PhD
Fakultas Pertanian:
Prof. Ir. Dedie Tooy, M.Si, PhD
Prof. Dr. Ir. Dantje Tarore, MS
Prof. Dr. Ir. Betsy A. N. Pinaria, MS
Prof. Dr. Ir. Leonardus R. Rengkung, ME
Fakultas Hukum:
Prof. Dr. Cornelis D. Massie, SH, MH
Rektor Unsrat menegaskan bahwa pencapaian gelar tertinggi akademik ini memiliki makna yang luas.
Gelar Guru Besar bukan hanya milik individu yang bersangkutan, melainkan aset berharga bagi daerah.
“Pengukuhan Guru Besar hari ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi kebanggaan keluarga dan Universitas Sam Ratulangi, serta masyarakat Sulawesi Utara,” ujar Rektor di hadapan tamu undangan.
Rektor juga membawa pesan mendalam dengan menyitir pemikiran tokoh pendidikan nasional. Beliau mengingatkan bahwa seorang Guru Besar memikul tanggung jawab moral yang melampaui riset dan publikasi ilmiah.
Mengutip Ki Hadjar Dewantara, Rektor menyebut pendidikan adalah tempat bertumbuhnya budi pekerti dan pikiran.
Ia mengatakan, Guru Besar hadir bukan hanya sebagai ilmuwan yang bergelut dengan data, tetapi harus tampil sebagai penuntun dan teladan bagi generasi muda.
Rektor Unsrat memberikan pesan kuat bahwa prosesi ini bukanlah garis finis. Sebaliknya, ini adalah gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar terhadap masyarakat.
Sementara Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus SE yang diwakili Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sulut, Jani Lukas SP.i M.Si dalam sambutannya mengatakan Gelar Guru Besar bukan sekedar capaian akademik tertinggi, melainkan simbol dari tanggung jawab yang besar.
“Dibalik gelar tersebut tersimpan harapan, agar para guru besar mampu menjadi pelopor dalam pembangunan ilmu pengetahuan, pendidik yang membentuk generasi unggul, sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat,” terang Jani Lukas.
Gubernur berharap kontribusi para guru besar dapat memperkuat potensi daerah, menggali keunggulan lokal serta mendorong lahirnya inovasi berbasis kearifan lokal.
“Melalui kontribusi pemikiran riset dan inovasi dari para guru besar kita optimis dapat mendorong percepatan pembangunan di berbagai sektor, bersama-sama kita melangkah membangun daerah menuju Sulawesi Utara maju sejahtera dan berkelanjutan,” pungkasnya. (don)













