Talaud  

Kerjasama Filipina Dan Talaud Sebuah Keniscayaan

Sebuah Catatan Kritis
Nukilan : Jim Robert Tindi

NPM, Talaud – Bukan pilihan, tapi keniscayaan geografis, historis, dan ekonomis. Kepulauan Talaud adalah garda terdepan Indonesia yang hanya berjarak sekitar 150-200 km dari Mindanao, Filipina Selatan. Lebih dekat ke General Santos, Filipina, daripada ke Manado atau Jakarta.
Inilah mengapa kerjasama itu tidak bisa dihindari karena,

1. Geografi Menentukan Takdir.

Talaud berhadapan langsung dengan Pasifik dan Filipina Selatan. Secara historis, masyarakat perbatasan sudah berinteraksi lintas batas jauh sebelum ada negara-bangsa, melalui Border Crossing Agreement 1975 yang mengatur kunjungan keluarga, ibadah, dan perdagangan tradisional. Menutup diri dari Filipina sama dengan melawan arus sejarah dan geografi itu sendiri.

2. Ekonomi, dari ancaman menjadi peluang.

Selama ini hubungan lintas batas lebih banyak memberi keuntungan ke Filipina. Hasil tangkapan nelayan Talaud dibawa ke General Santos dan dijual kembali dengan harga jauh lebih tinggi, sementara pasar Talaud dibanjiri produk jadi Filipina. Inilah yang coba dibalik oleh Bupati Welly Titah, dengan konsep Business to Business (B2B). Bukan sekadar G2G, tapi membuka ruang agar pelaku usaha Indonesia dan Filipina berhubungan langsung dalam koridor hukum kedua negara. Sehingga fokusnya, rantai hulu-hilir perikanan. Nelayan Talaud sebagai penyedia, investasi diarahkan ke cold storage, pengolahan, distribusi dan logistik, agar nilai tambah tidak lari ke luar. Momentum ini diperkuat dengan Rakor Pengembangan Investasi Daerah Perbatasan 30 September 2026 dan kunjungan Gubernur Generoso, Juanito C. Inojales, ke Indonesia untuk membahas perdagangan hasil laut, keselamatan pelayaran, dan mekanisme perdagangan lintas batas.

3. Keamanan.

Tidak Bisa Sendirian Talaud menghadapi illegal fishing, penyelundupan senjata, dan perlintasan kelompok dari Filipina Selatan yang rawan terorisme. Buktinya masih segar, 9 September 2026, KP Hiu 15 mengamankan kapal pump boat Filipina FV Manong dengan 200 kg tuna di utara Talaud. Kerjasama keamanan Indonesia-Filipina lewat Patroli Terkoordinasi dan forum JDSCC sudah berjalan, tapi tanpa kerjasama ekonomi yang adil, pengawasan hanya akan menjadi pemadam kebakaran. Keniscayaan itu artinya, jika tidak dikelola lewat kerjasama resmi yang saling menguntungkan, hubungan itu akan tetap berjalan lewat jalur ilegal. Pilihan Talaud hanya dua: menjadi beranda depan yang produktif, atau halaman belakang yang dieksploitasi.

Dengan B2B perikanan, Talaud tidak lagi sekadar perbatasan keamanan, tapi jembatan ekonomi Pasifik.

 

(Rogam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *