NPM, Manado – Sulawesi Utara menunjukkan kinerja yang positif dalam menjaga stabilitas harga di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih membayangi perekonomian global dan nasional.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara pada 2 Juni 2026, inflasi tahunan (year-on-year) Sulawesi Utara pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,33 persen.
Angka tersebut menunjukkan kondisi harga yang relatif stabil dan tetap berada pada level yang terkendali.
Pada saat yang sama, Sulawesi Utara mengalami deflasi sebesar 0,61 persen secara bulanan (month-to-month).
Penurunan harga ini terutama didorong oleh melandainya harga sejumlah komoditas pangan, khususnya cabai rawit dan berbagai jenis ikan yang selama ini menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Data BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan penurunan sebesar 2,28 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan pasokan pangan daerah berada dalam kondisi yang baik, sekaligus mencerminkan efektivitas pengendalian harga yang dilakukan melalui penguatan distribusi dan ketersediaan komoditas di pasar.
Bagi masyarakat, inflasi yang terkendali memiliki arti yang sangat penting. Stabilitas harga memberikan kepastian bagi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjaga daya beli, serta mengurangi tekanan terhadap pengeluaran keluarga.
Dalam situasi ekonomi yang dinamis, kemampuan menjaga harga tetap stabil menjadi salah satu indikator penting keberhasilan pembangunan daerah.
Keberhasilan menjaga inflasi tetap terkendali tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pelaku usaha, petani, nelayan, hingga distributor yang terus memastikan pasokan kebutuhan masyarakat tetap tersedia dan terjangkau.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, berbagai langkah penguatan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi terus dilakukan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut mencakup penguatan sektor pertanian dan perikanan, peningkatan konektivitas distribusi antarwilayah, serta koordinasi lintas sektor untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi banyak daerah, capaian inflasi Sulawesi Utara menjadi sinyal positif bahwa fondasi ekonomi daerah tetap kuat.
Stabilitas harga yang terjaga tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui terjaganya daya beli dan meningkatnya rasa aman dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pada akhirnya, pembangunan yang berhasil bukan hanya tercermin dari angka-angka ekonomi, tetapi dari manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ketika harga kebutuhan pokok tetap terkendali, ketika daya beli masyarakat tetap kuat, dan ketika aktivitas ekonomi terus bergerak positif, maka pembangunan hadir secara nyata dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Utara. (don)













