NPM, Tomohon – Keberhasilan pelaksanaan Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 dengan tema “Collaboration of Spirit” atau semangat kebersamaan, membuktikan Tomohon terus bergerak menuju modernisasi.
Event yang digelar 7-12 Agustus 2026 ini telah memasuki tahun ke-13 dan memberikan multiplier effect nyata bagi masyarakat. Modernisasi Kota Tomohon dirasakan langsung dalam menghadapi perkembangan dunia.
Tomohon, Kota Toleransi dan Pluralisme
Menurut James Tangkawarow, tokoh muda dan putra almarhum Boy Tangkawarow mantan pejabat Wali Kota, Kota Tomohon dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Masyarakat hidup dengan falsafah “Torang Samua Basudara” yang mengakar kuat.
Bukti nyata, Tomohon pernah meraih Harmony Award dari Kementerian Agama dan masuk daftar kota paling toleran versi Setara Institute.
Pada 2021 kota ini juga dicanangkan sebagai Kota Toleransi.
“Mayoritas penduduk Kristen, namun Islam, Buddha, dan Hindu hidup berdampingan damai. Untuk menjaga pluralisme dibutuhkan peran aktif Pemkot Tomohon dan FKUB. Dulu saya aktif di PELITA – Pemuda Lintas Agama yang jadi wadah edukasi kerukunan untuk generasi muda,” ujar James.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata Harus Ditingkatkan
Hal senada disampaikan Herman Najoan, Dosen FISIP Universitas Sam Ratulangi.
“Harus lebih ditingkatkan dampak dari kegiatan TIFF ini, baik dari sisi ekonomi, pariwisata, dan pembenahan kota yang lebih progresif. Jangan sampai hanya jadi kegiatan rutinitas,” katanya.
Tolak Radikalisme, Jaga Pancasila
Jimmy Walewangko, pengusaha dan politisi yang pernah menjabat Wakil Sekjen DPP PKB 2001-2002, Stafsus Menhan Matori Abdul Djalil, dan Konsultan Politik Sahli Kapolri 2015-2017 menegaskan arah pembangunan Tomohon sudah jelas.
“Dinamika masyarakat majemuk sangat kental. Persaudaraan sejati tercipta dari perbedaan budaya, etnis, suku, ras dan agama. Landasan terkuat Tomohon adalah hukum kasih, Pancasila dan UUD 1945,” tegas Jimmy.
Ia juga bercerita pengalamannya di Bekasi dan Makassar terkait pembelaan rumah ibadah.
“Secara tegas saya mengecam dan menolak radikalisme di Kota Tomohon. Filosofinya: lebih baik anda menerima bangsa Belanda dan Jepang daripada anda menolak bangsaMu sendiri,” pungkasnya.
Memperkuat Integrasi Sosial
Sementara, Ventce Pinontoan, Ketua Lansia Kota Manado dan Ketua Lansia Rayon 5 Kembes Sinode GMIM menambahkan, sebagai warga negara wajib memelihara dan memperkuat integrasi sosial di tengah masyarakat beragam, melalui interaksi tanpa menghilangkan identitas. Saling mengasihi dalam kebersamaan. (don)













