Ketika Jabatan Gerejawi Menjadi Status Sosial, Pendidikan GMIM Terabaikan

 

Refleksi 92 Tahun Pendidikan GMIM

Oleh : Fery Sangian, S.Sos,MAP*
Anggota Majelis Sinode. *Sekjen Aliansi Guru Indonesia Sulawesi Utara*

Catatan kritis:
HUT 62 penulis, sebagai warga GMIM.

NPM,MANADO- Sembilan puluh dua tahun adalah usia yang panjang bagi sebuah gerakan pendidikan. *Dalam rentang waktu itu, zaman berubah, generasi berganti, teknologi berkembang, dan kebutuhan masyarakat mengalami transformasi yang luar biasa*

Tetapi ada satu pertanyaan yang tidak boleh kita hindari dalam momentum 92 tahun Pendidikan GMIM khususnya *Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar (SD,SMP), SMA,SMK dan Pendidikan layanan khusus*

Apakah kita masih memiliki keberanian untuk mengevaluasi pendidikan GMIM secara jujur?

Pertanyaan ini penting karena gereja tidak boleh hanya pandai merayakan sejarah. Gereja juga harus berani memeriksa apakah warisan sejarah itu masih menghasilkan masa depan.
Apakah satuan pendidikan merupakan warisan budaya tak benda yg perlu di lestarikan sebagai suatu artefak ?

Pendidikan GMIM pernah menjadi bagian penting dari perjuangan mencerdaskan kehidupan masyarakat. Sekolah-sekolah bukan sekadar gedung tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Di sana ada panggilan gereja untuk membentuk manusia.
“Si Tou, Timou, Tumou Tou”.
Namun hari ini, kita berhadapan dengan sebuah ironi.
Ketika jabatan gerawi semakin mudah dibaca sebagai simbol status sosial, pendidikan justru berpotensi ditempatkan di pinggiran perhatian.
Jabatan gerejawi seharusnya merupakan amanat pelayanan. Ia bukan mahkota sosial.
Ia bukan tanda seseorang lebih tinggi daripada yang lain. Jabatan adalah tanggung jawab.
Semakin tinggi posisi seseorang dalam struktur gereja, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa pelayanan gereja menyentuh kebutuhan nyata umat dan masyarakat termasuk pendidikan.
Ketika gereja sibuk dengan jabatan kita perlu bertanya dengan jujur, jangan-jangan gereja kita terlalu sibuk dengan siapa menduduki posisi apa, tetapi kurang sibuk dengan apa yang sedang terjadi pada anak-anak kita?
Kita dapat memiliki struktur organisasi yang rapi. Dan kitapun dapat memiliki berbagai rapat dan persidangan.
Sidang Mejelis Sinode(SMS), Sidang Majelis Sinode Istimewa(SMSI)
Sidang Majelis Sinode Tahunan.
Kita dapat memiliki berbagai jabatan pelayanan.
Kita dapat menyelenggarakan berbagai seremoni.
Tetapi semua itu kehilangan makna apabila sekolah- sekolah kita tidak berkembang, guru-guru tidak mendapatkan perhatian yang memadai, dan anak-anak didik tidak memperoleh pendidikan yang bermutu.
Gereja tidak boleh mengukur keberhasil annya hanya dari kesibukan organisasi onal.
Sebab ukuran keberhasilan pelayanan pada akhirnya bukan berapa banyak jabatan yang berhasil kita isi dalam jabatan politik,(Eksekutif, Legeslatif, Yudikatif, TNI, POLRI serta Pengusaha. melainkan berapa banyak manusia yang berhasil kita layani dan bentuk.
Pendidikan bukan lampiran pelayanan gereja semata, ada kecenderungan untuk memperlakukan pendidikan sebagai salah satu program di antara sekian banyak program gereja.
Cara pandang seperti ini perlu dikoreksi.
Pendidikan bukan lampiran.
Pendidikan bukan urusan administratif belaka sebab
pendidikan adalah investasi gereja terhadap manusia dan masa depan.
Sekolah GMIM seharusnya menjadi salah satu ruang strategis tempat gereja menghadirkan nilai-nilai iman, ilmu pengetahuan, karakter, integritas, disiplin, kreativitas, dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, ketika pendidikan mengalami persoalan, gereja tidak bisa sekadar mengatakan bahwa itu adalah persoalan sekolah atau persoalan para guru
Jika pendidikan adalah bagian dari panggilan gereja, maka persoa lan pendidikan adalah persoalan gereja.
Guru jangan hanya dituntut mentrasfer nilai moral, mentransfer ilmu pengetahuan, kepada anak didik tetapi juga harus di diperhatikan kesejahteraan mereka.

Di balik setiap sekolah ada guru- guru adalah wajah pendidikan yang berhadapan langsung dengan anak-anak setiap hari.
Mereka bukan sekadar pelaksana kurikulum. Mereka adalah pembentuk manusia karena itu, pembicaraan tentang masa depan pendidikan (GMIM) tidak mungkin dilepaskan dari kualitas, kesejahteraan, penghargaan, pengembangan kompetensi, dan masa depan profesi guru.
Kita tidak bisa menuntut sekolah menghasilkan pendidikan berkualitas jika orang-orang yang menjalankannya tidak mendapatkan ekosistem kerja yang memungkinkan mereka bertumbuh.
Jangan sampai kita menuntut guru menjadi profesional, tetapi memperlakukan profesi guru sekadar sebagai pekerjaan biasa
Jangan takut mengevaluasi sekolah-sekolah GMIM sebab di usia 92 tahun seharusnya menjadi momentum evaluasi besar-besaran.
Sekolah mana yang berkembang ?
Sekolah mana yang stagnan ?
Apa penyebabnya ?
Bagaimana kualitas tata kelolanya ?
Bagaimana kondisi gurunya ?
Bagaimana sarana dan prasarananya ?
Bagaimana hubungan sekolah dengan jemaat ?
Bagaimana daya saingnya ?
Dan yang paling penting adalah,
apakah anak-anak yang belajar di sekolah (GMIM) benar-benar mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan untuk menghadapi masa depan ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak boleh dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap gereja. Justru sebaliknya evaluasi adalah bentuk tanggung jawab terhadap gereja.
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah dikritik. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mendengar kritik, menguji kritik, memperbaiki kekurangan, dan bergerak maju.
Kita tidak kekurangan seremoni. Dan kita membutuhkan keberanian.
Peringatan hari ulang tahun atau momentum sejarah tentu penting. Tetapi jangan sampai perayaan 92 tahun pendidikan GMIM berhenti pada pidato, spanduk, dokumen tasi, dan seremoni.

Setelah perayaan selesai, persoalan pendidikan tetap menunggu. Guru tetap masuk kelas, anak-anak tetap belajar, orang tua tetap berharap, sekolah tetap membutuhkan pembenahan. Dan masa depan generasi muda terus berjalan.

Karena itu, 92 tahun Pendidikan GMIM seharusnya bukan sekadar perayaan usia, tetapi momentum untuk melakukan koreksi arah. Sebab
kita membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang harus diperbaiki, kita membutuhkan keberanian untuk menempatkan pendidikan sebagai prioritas strategis, kita membutuhkan keberanian untuk mengalokasikan sumber daya dan sumber dana secara lebih serius,kita membutuhkan keberanian untuk memperbaiki tata kelola. Dan kita membutuhkan keberanian untuk bertanya apakah struktur dan jabatan yang kita bangun benar-benar menghasilkan pelayanan yang lebih baik.

Dan dari budaya jabatan menuju budaya pelayanan inilah mungkin refleksi paling mendasar pada usia 92 tahun. Dan
gereja harus berhati-hati ketika jabatan pelayanan berubah menjadi status sosial.
Ketika jabatan menjadi simbol kehormatan, orang dapat lebih sibuk mempertahan kan posisi daripada menjalankan fungsi,
tetapi ketika jabatan dipahami sebagai amanat, seseorang akan bertanya,
Apa yang sudah saya lakukan?
Siapa yang sudah saya layani?
Apa yang berubah karena pelayanan saya?
Dan dalam konteks pendidikan adalah,
apa yang sudah saya lakukan agar sekolah- sekolah GMIM menjadi lebih baik ?
Apa yang sudah saya lakukan agar guru-guru semakin kuat dan sejahtera ?
Apa yang sudah saya lakukan agar anak- anak mendapatkan masa depan yang lebih baik ?
Pertanyaan- pertanyaan seperti inilah yang seharusnya menghidupkan kembali makna jabatan gerejawi.

92 tahun adalah waktunya kita bercermin kita tidak perlu membuang sejarah, kita justru harus menghorma tinya dengan cara yang lebih serius dengan cara, meneruskan cita-cita baik yang telah diwariskan dan memperbaiki apa yang tidak lagi relevan.
Sembilan puluh dua tahun bukan alasan untuk berpuas diri.
Sembilan puluh dua tahun adalah undangan untuk bercermin.
Apakah pendidikan masih menjadi prioritas ?
Apakah sekolah masih menjadi ruang pelayanan yang strategis ?
Apakah guru masih ditempatkan sebagai kekuatan utama ?
Apakah anak-anak menjadi pusat perhatian ?
Dan apakah mereka yang memegang jabatan benar-benar menggunakan kewenangannya untuk melayani ?
Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka tidak perlu tersinggung.
Kita perlu berbenah.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar nama baik sebuah lembaga dan yang dipertaruhkan adalah masa depan anak-anak.
Dan masa depan anak-anak terlalu berharga untuk dikalahkan oleh kepentingan jabatan, kenyamanan struktural, atau kebanggaan terhadap masa lalu.
92 tahun Pendidikan (GMIM) harus menjadi awal dari keberanian baru: dari status menuju pelayanan, dari seremoni menuju kerja nyata, dari mempertahankan struktur menuju memperkuat pendidikan, dan dari mengenang masa lalu menuju menyiapkan masa depan.
Karena pada akhirnya, sejarah pendidikan (GMIM) tidak akan dikenang hanya dari berapa lama ia bertahan.
Si Tou, Timou, Tumou Tou.

 

(Rogam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *