Oleh: Iverdixon Tinungki
NPM,SANGIHE- Kendahe (1570), salah satu dari dua kerajaan bercorak Islam di pulau Sangihe yang pernah eksis selama ratusan tahun. Wilayahnya melebar hingga ke Filipina Selatan.
Pada 2006, dan tahun-tahun berikutnya, saya melakukan perjalanan ke Kendahe. Sejatinya, Kendahe hari ini masih lekat dengan akar sejarah dan budaya Islam peninggalan masa lalu.
“Itu yang menarik apabila membincangkan Kendahe,” ujar Sjahrul Ponto kepada penulis saat kami berkunjung ke Kendahe.
Sudah cukup lama saya mengenal Sjahrul Ponto, budayawan Sangihe dari keturunan raja-raja Kerajaan Kendahe. Ia mengatakan, siar Islam berkembang luas di kepulauan ini pada zaman raja Syarif Achmad Mansyur (Egaliwutang=Mehegaļangi).
Syarif Achmad Mansyur memerintah pada 1600-1640. Raja ini adalah anak dari Sultan Syarif Maulana dari kesultanan Mindanao. Permaisyurinya anak dari raja Tahuna, Tatehe Woba bernama Taupanglawo.
“Hingga kini, wilayah Kendahe dan Tabukan Utara merupakan pusat kebudayaan Islam di kepulauan Nusa Utara. Peninggalan syair-syair tua bernuansa Islam merupakan bagian dari kekayaan khazanah sastra lama Nusa Utara,” ungkap dia.
Sementara pengaruh Islam di Nusa Utara tidak saja berasal dari kawasan selatan Filipina, tetapi juga dari kesultanan Ternate dan Tidore, tambahnya.
Melewati hari-hari yang panjang di Kendahe bersama Sjahrul Ponto, beruntung saya bisa menulis beberapa sajak tentang negeri indah bernuansa Islami itu, di antaranya sajak berikut ini:
MAULANA
Fatimah di mantra api
memancar siar suci selatan negeri
muadzin melantun adzan
sakralah langit kandahar
dalam sajaksajak maulana
Egaliwutang Taupanglawo
bersujud lima cahaya timur
menyingkap fajar istana Aling
di jejak tasauf sultan syarif
menyingsing pagi kaum fakir
membram surga bergetar di doa malam maulana
pucuk pucuk daihango di kedalaman jurang
menyaksikan jibril berkuda kencana
berpacu dari arah qiblat
menjemput dzikir kandahar
di atas baitbait Al-Fateha
seorang lelaki bersorban putih
muncul di syair puncak Awu
di balik surau keramat
yang dijaga Islam tua
Beberapa situs di Mindanao menyebut Kendahe sebagai Candahar. Awalnya, kerajaan Kendahe merupakan bagian dari kerajaan Mindanau Tubis, Filipina. Setelah berpisah dengan kerajaan Tubis, menurut data Situs Sangir, wilayahnya tinggal terdiri dari Bahu, Talawid, Kendahe, Kolongan, Batuwukala dan pulau-pulau sekitarnya termasuk Kawio, Lipang, Miangas sampai sebagian Mindanau Selatan.
Merujuk pada data Valentijn, wilayah kerajaan Kendahe di Mindanao yaitu Coelamang, Daboe (Davao), Ijong, Maleyo, Catil dan Leheyne.
Kerajaan ini berpusat di Makiwulaeng dengan raja pertama Wagania (1570-1600). Terletak di barat laut pulau Sangihe, diperinci dari Kontrak November 1885 dengan Residen Manado, van der Wijck.
Datu Jamal Ashley Abbas dalam historiografi yang diiterbitkan The Philippine Post, 26 Desember 1999 mengungkap, pada abad 16 di pulau Sarangany dan Balut, Candahar merupakan kerajaan yang kuat memegang kekuasaan di pesisir timur Mindanao (sampai Tandag), Teluk Sarangani, Teluk Butuan (sekarang Teluk Davao) dan bahkan di wilayah Sangir, pulau-pulau di Maluku Utara.
Penduduk kedua pulau itu tulis Abbas, berbicara bahasa Sangil atau Sangir. Bahkan ungkap dia, bahasa Sangir ketika itu, diucapkan oleh sekitar 200.000 orang Sangir di Maluku.
Pada tahun 1575, Sultan Bajang Ullah yang tangguh dari Ternate membuat sebuah perjanjian pertahanan bersama dengan Datu dari Sarangani atau raja dari Candahar, yang ibukotanya berada di pulau Balut.
Di masa lalu, Magu Penguasa indanao’s, Buayan’s, Sarangany, Candahar dan Sangir adalah satu keluarga. Misalnya, pada paruh kedua abad ke-17, anak-anak Datu Buisan dari Sarangany a.k.a. raja Candahar ada di seluruh wilayah ini. Anak-anaknya termasuk Kudjamu, Rajah dari Buayan; Samsialam dan Makabarat, co-penguasa Buayan yang kemudian memilih tinggal di Ternate; dan Pandjalang Perdana Menteri Tabukan di Sangir Utara.
Anak perempuannya menikah dengan Sultan Barahaman dan Katchil Bakaal dari Maguindanao, dan Sultan Tabukan. Putri kesayangannya, Lorolabo, yang menikah dengan sultan Tabukan, memiliki seorang putra, Joannes Calambuta, yang kemudian dipilih Buisan untuk menggantikannya sebagai Rajah dari Candahar. Rajah Buisan adalah putra Datu Buisan dari Davao.
Kandahe -Taruna adalah dua kerajaan bertetangga di pulau Sangihe yang pernah saling bersaing, tetapi kemudian disatukan jadi satu kerajaan. Kedua kerajaan kecil saja.
Pada tahun 1898 Kerajaan Kendahe dan Kerajaan Taruna digabung menjadi satu. Di dua wilayah inilah tahun 1919 Raja Soleman Ponto memerintah dengan pusatnya di Kota Tahuna kini.
Tabukan dan Kendahe di Sangihe Besar, kental mendapat pengaruh sistem kekuasaan di Sulu dan Mindanao. Meski kalau ditelusuri lebih dalam semua silsilah raja-raja Sangihe-Talaud, Siau, Bawontehu (Manado) dan para keturunan Mokoduludug, praktis semua terkait kawin-mawin dengan para penguasa di Mindanao.
Kendati demikian, penting digarisbawahi, pada waktu lalu konsep kekuasaan tidaklah total dipahami sebagai kekuasaan kewilayahan dalam pemahaman kini. Kala itu, kekuasaan dominan terkait dengan kemampuan membentuk kekuatan bersenjata untuk merebut kendali atas perdagangan tenaga kerja budak dan monopoli atas produk-produk dagang.
Maselihe (Laut Berarus) adalah sebutan lain untuk kerajaan Kendahe (Kendar-Kandahar). Di masa raja ke IV Samensi Alang (Sam Syah Alam) yang memerintah pada tahun 1688-1711, istana kerajaan Kendahe yang berada di tepi pantai tenggelam dan amblas ke dalam laut bersama daratan Kendar lama akibat letusan gunung Awu pada tahun 1711 dan letusan susulan pada beberapa masa berikutnya.
Daftar Raja-raja Kerajaan Kendahe
* 1570-1600: Raja Wagania
* 1600-1640: Raja Egaliwutang,
* 1640-1688: Raja Wuisan,
* 1688-1711: Raja Samensi alang / Sam Syah Alam,
* 1711-1729: Raja Kalambuta / Karambut,
* 1729- 1769: Raja Andris Maanabung / Tasensulung,
* 1771-1793: Raja Manuel Manabung / Makaado,
* 1793-1827: Raja Johanis Karambut / Ansawuwo,
* 1827-1845: Raja Frederik Karambut,
* 1845-1893: Raja Daniel Petrus Ambat Janis
(Catatan: Raja selanjutnya sudah tergabung dengan daftar raja-raja kerajaan Taruna atau Tahuna.)
(*)













