Nukilan : Jackson Ruaw
IARMI Meneguhkan Bela Negara, Menguatkan Organisasi, dan Mengubah Gagasan Menjadi Aksi
NPM,JAKARTA— Pelantikan pengurus bukanlah garis akhir sebuah organisasi. Ia justru merupakan titik awal untuk membuktikan apakah amanah yang diberikan mampu diterjemahkan menjadi kerja, program, dan pengabdian yang memberikan manfaat nyata.
Semangat itulah yang terasa dalam rangkaian Pelantikan Pengurus, Rapat Kerja Nasional (Rakernas), dan Seminar Nasional Bela Negara DPN Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Tahun 2026 yang berlangsung pada 25–27 September 2026 di Jakarta.
Rangkaian agenda nasional ini bukan sekadar seremoni organisasi. Ia menjadi momentum untuk mempertemukan kembali sejarah, pengalaman, kapasitas, jejaring dan idealisme alumni Resimen Mahasiswa dengan kebutuhan Indonesia hari ini.

Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi dan geopolitik yang semakin kompleks, makna bela negara juga mengalami perluasan. Bela negara tidak berhenti pada simbol, atribut, upacara dan ketegapan barisan. Bela negara harus hadir dalam bentuk pengetahuan yang dibagikan, masyarakat yang diberdayakan, ekonomi yang diperkuat, lingkungan yang dijaga, inovasi yang dikembangkan, serta persoalan masyarakat yang ikut diselesaikan.
Di sinilah IARMI menemukan relevansi pengabdiannya.
⸻
PELANTIKAN BUKAN SEKADAR PENGUKUHAN
Pelantikan pengurus DPN IARMI periode 2025–2030 membawa konsekuensi moral sekaligus organisatoris: setiap jabatan harus berujung pada tanggung jawab, dan setiap tanggung jawab harus menghasilkan kerja.
Kepemimpinan Ketua Umum DPN IARMI Prof. Bahrullah Akbar bersama Sekretaris Jenderal Ir. A. Riza Patria menjadi bagian dari momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat organisasi dan memperluas ruang kontribusi alumni Menwa.
Kehadiran jajaran pengurus dari berbagai daerah, delegasi DPP dan DPK, alumni Menwa, mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha serta berbagai mitra strategis menunjukkan bahwa IARMI memiliki modal sosial yang besar.

Namun, modal organisasi tidak cukup hanya berupa jumlah anggota dan luasnya jaringan. Modal tersebut harus dikonversi menjadi kapasitas untuk bekerja. Karena itu, setelah pelantikan, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa menduduki posisi apa, melainkan:
Apa yang akan kita kerjakan dengan amanah yang telah diberikan?
Pertanyaan itulah yang semestinya menjadi energi baru IARMI periode kepengurusan 2025–2030.
⸻
RAKERNAS: DARI KONSOLIDASI MENUJU IMPLEMENTASI
Rakernas menjadi ruang strategis untuk menerjemahkan semangat pelantikan ke dalam arah kebijakan dan program kerja organisasi.
Konsolidasi tidak boleh berhenti pada penyamaan persepsi. Konsolidasi harus menghasilkan agenda bersama, pembagian peran, target, indikator dan mekanisme implementasi.
Salah satu gagasan yang mengemuka adalah “IARMI Mengabdi untuk Desa.”
Gagasan ini memiliki relevansi strategis karena desa merupakan ruang nyata tempat berbagai persoalan pembangunan bertemu: ketahanan pangan, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, kewirausahaan, digitalisasi, ekonomi lokal dan penguatan sumber daya manusia.
Di ruang inilah alumni Menwa dapat menghadirkan kapasitasnya. Bukan untuk menggantikan peran pemerintah.
Bukan pula untuk mengambil alih fungsi perguruan tinggi atau dunia usaha. Tetapi untuk menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi. Alumni Menwa memiliki pengalaman organisasi, kepemimpinan, kedisiplinan, jejaring dan semangat pengabdian. Perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan dan inovasi. Pemerintah memiliki kewenangan serta sumber daya pembangunan. Dunia usaha memiliki teknologi, pasar, modal dan pengalaman bisnis. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal sekaligus menjadi subjek utama pembangunan.
Ketika kekuatan tersebut dipertemukan, bela negara dapat memperoleh bentuk baru yang lebih kontekstual. Bela negara menjadi kerja kolaboratif untuk memperkuat masyarakat
DARI BARAK KE DESA
Semangat Widya Castrena Dharma Siddha memberikan fondasi filosofis yang kuat bagi perjalanan alumni Resimen Mahasiswa.
Ilmu pengetahuan dan kemampuan tidak berhenti sebagai kapasitas pribadi. Keduanya harus menjadi instrumen pengabdian.
Karena itu, metafora “Dari Barak ke Desa” bukan berarti meninggalkan sejarah Resimen Mahasiswa.
Sebaliknya, ia merupakan upaya membawa nilai-nilai yang pernah ditempa dalam kehidupan Menwa—disiplin, kepemimpinan, tanggung jawab, patriotisme, solidaritas dan pengabdian—ke ruang kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.
Jika dahulu semangat itu ditempa dalam barak dan lingkungan pendidikan, maka kini nilai tersebut harus diwujudkan di tengah masyarakat.
Di desa.
Di kampus.
Di dunia usaha.
Di ruang inovasi.
Di tengah persoalan sosial.
Dan di berbagai ruang pembangunan bangsa.
Dengan demikian, “Dari Barak ke Desa” bukan sekadar slogan. Ia dapat menjadi paradigma transformasi pengabdian IARMI:
dari atribut menuju manfaat,
dari seremoni menuju aksi,
dari gagasan menuju program,
dari jaringan menuju kolaborasi,
dan dari pengalaman menuju kebermanfaatan
Seminar Nasional : Memperluas Makna Bela Negara
Seminar Nasional Bela Negara dengan tema “Bela Negara dan Pengabdian Generasi Muda untuk Indonesia” memperluas perspektif mengenai bagaimana generasi muda dapat mengambil bagian dalam pembangunan bangsa.
Kehadiran sejumlah pejabat negara dan tokoh dari berbagai sektor memberikan dimensi strategis terhadap pembahasan tersebut. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago hadir sebagai Inspektur Upacara sekaligus memberikan pengarahan.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Jenderal Polisi (Purn) Muhammad Tito Karnavian menjadi keynote speaker Seminar Nasional Bela Negara.
Seminar juga menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D.; Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ir. A. Riza Patria, M.B.A.; serta Presiden Direktur PT Astra International Tbk Paulus Bambang Wijanarko sebagai pembicara.
Kehadiran unsur pemerintah, pendidikan tinggi dan dunia usaha menggambarkan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam menerjemahkan bela negara ke dalam pembangunan.
Sebab tantangan bangsa hari ini tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Bela negara membutuhkan ekosistem
Dari Sejarah Menuju Masa Depan
IARMI memiliki sejarah yang tidak pendek.
Namun, organisasi tidak dapat hidup hanya dengan romantisme sejarah.
Sejarah harus menjadi modal moral untuk menghadapi masa depan.
Nilai-nilai yang pernah membentuk generasi Resimen Mahasiswa harus diterjemahkan ke dalam bahasa zaman: transformasi digital, kewirausahaan, ketahanan pangan, ekonomi kreatif, pemberdayaan desa, pengembangan sumber daya manusia, lingkungan, teknologi dan kolaborasi sosial.
Karena itu, tantangan IARMI periode 2025–2030 bukan sekadar mempertahankan eksistensi organisasi.
Tantangannya adalah meningkatkan relevansi organisasi.
Organisasi yang relevan adalah organisasi yang mampu menjawab kebutuhan zamannya.
Dan organisasi yang kuat bukan hanya organisasi yang memiliki struktur sampai daerah, tetapi organisasi yang mampu menunjukkan dampak nyata dari keberadaannya
Setelah Pelantikan Apa ?
Pertanyaan terbesar justru dimulai setelah seluruh rangkaian kegiatan Jakarta selesai.
Setelah bendera diturunkan.
Setelah seragam kembali disimpan.
Setelah ruang seminar dikosongkan.
Setelah para peserta kembali ke daerah masing-masing.
Apa yang akan dilakukan?
Jawabannya harus hadir dalam bentuk program.
Harus ada desa yang didampingi.
Harus ada UMKM yang diperkuat.
Harus ada generasi muda yang dibina.
Harus ada mahasiswa yang diberdayakan.
Harus ada inovasi yang dikembangkan.
Harus ada kemitraan yang dibangun.
Harus ada masyarakat yang merasakan manfaat.
Dengan demikian, keberhasilan kepengurusan tidak semata-mata diukur dari banyaknya rapat yang dilakukan atau kegiatan yang dilaksanakan.
Tetapi dari seberapa jauh organisasi mampu mengubah sumber daya yang dimiliki menjadi manfaat bagi masyaraka
IARMI: Organisasi, Kolaborasi dan Pengabdian.
Rangkaian Pelantikan, Rakernas dan Seminar Nasional Bela Negara DPN IARMI 2026 pada akhirnya dapat dibaca sebagai sebuah pesan:
IARMI sedang memasuki fase yang menuntut transformasi dari organisasi yang memiliki sejarah menjadi organisasi yang menghasilkan dampak.
Dari pengalaman menuju inovasi.
Dari jaringan menuju kolaborasi.
Dari kepemimpinan menuju pelayanan.
Dari bela negara sebagai nilai menuju bela negara sebagai tindakan.
Dan dari Widya Castrena Dharma Siddha menuju pengabdian yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Inilah pekerjaan besar setelah pelantikan. Sebab pelantikan memberikan legitimasi, Rakernas memberikan arah, seminar memberikan perspektif tetapi kerja nyata yang akan memberikan makna. Maka, dari Jakarta, semangat itu perlu dibawa kembali ke daerah.
Ke kampus.
Ke desa.
Ke komunitas.
Ke dunia usaha.
Ke tengah masyarakat.
Dari Barak ke Desa.
Dari Desa untuk Indonesia.
Dari IARMI untuk Pengabdian.
Karena pada akhirnya, bela negara bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri tegap untuk bangsa, tetapi bagaimana kita tetap berdiri bersama bangsa ketika masyarakat membutuhkan pengabdian.
Dari Desa kita membangun.
Dari Kampus kita berinovasi.
Dari Jejaring kita berkolaborasi.
Bersama IARMI kita mengabdi.
Untuk Indonesia kita berkontribusi. 🇮🇩
JAKARTA, 26 SEPTEMBER 2026
DPN IKATAN ALUMNI RESIMEN MAHASISWA INDONESIA (IARMI)













