Felly Estelita Runtuwene dan Viktor Mailangkay, Disatukan Dalam Ibadah Sabbath dan Perjamuan Kudus

 

Nukilan : Ronald Gampu, Ssos

NPM,MANADO- Suasana khidmat dan penuh sukacita menyelimuti seluruh Anggota Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jemaat Ranotana Karombasan (RASDAC) Ranotana Seventh-day Adventist Church), Sabtu (3/10/2026)

Apa pasal ? itu dikarenakan adanya perayaan Ibadah Sabat yang dirangkaikan dengan Perjamuan Kudus sehingga menjadi momentum yang istimewa bagi ratusan anggota jemaat dan tamu yang hadir.


Pun Ibadah tersebut menghadirkan Pdt. Dr. Swineys Tandidio, M.A.R., Direktur Sekolah Sabat dan Pelayanan Perorangan serta Koordinator Adventist-Laymen’s Services and Industries (ASI) (GMAHK) Uni Konferens Indonesia Kawasan Timur (UKIKT), sebagai pembawa FirmanTuhan
Dalam khotbahnya, Pdt. Tandidio membawa jemaat menelusuri kisah fundamental dalam Kejadian 1, 2, dan 3—tentang penciptaan manusia, kejatuhan manusia ke dalam dosa, hingga karya penebusan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus.


Alhasil, pesan tersebut menjadi sangat relevan ketika jemaat memasuki momentum Perjamuan Kudus.
Tatkala roti dan anggur tidak sekadar dipandang sebagai bagian dari sebuah liturgi, tetapi menjadi pengingat akan pengorbanan Kristus, kasih karunia, pengampunan, dan panggilan untuk hidup dalam persekutuan dengan Tuhan serta sesama.
Dalam praktik (GMAHK), Perjamuan Kudus dilaksanakan secara berkala, umumnya empat kali dalam setahun, sebagai bentuk penghayatan terhadap teladan yang diberikan Yesus Kristus kepada para murid-Nya.
Ibadah Sabat dan Perjamuan Kudus berlangsung tertib, teratur, dan penuh kekhidmatan. Pelayanan tersebut telah dikoordinasikan oleh Pdt. Michael Polii, S.Ag., selaku Pendeta Jemaat, bersama jajaran pimpinan dan pelayan jemaat.
Bukan hanya itu saja, Kontribusi para ketua jemaat, penatua, diakon, diakones, serta para pendeta turut menopang kelancaran seluruh rangkaian ibadah diantaranya Dr. Merry Mailangkay Kalalo, S.H., M.H., selaku Ketua Jemaat/Penatua 1, serta dr. Gerald Langingi, Sp.A., Meita Moniung, S.E., Tasya Pandaleke Mamesah, S.E., Maya Doringin Sanyang, S.Keb., dr. Bayen Kairupan, Pdtm. Juan Maleke, S.Fil., dan Pdtm. Silvana Rembangan Lowing, S.Ag.
Sementara itu ikut mengambil bagian dalam pelayanan mimbar yakni, Pdt. Jim Mamarimbing, M.Fil., selaku Koordinator Filantropi dan Adventist-Laymen’s Services and Industries (ASI) (GMAHK) Daerah Konferens Manado dan Provinsi Maluku Utara (DKMMU).


Kehadiran dan pelayanan bersama tersebut memperlihatkan bahwa Perjamuan Kudus bukan hanya sebuah agenda gerejawi, melainkan sebuah peristiwa iman yang mengajak setiap orang untuk kembali kepada inti Injil, Kristus, pengampunan, persatuan, dan pengharapan akan kedatangan-Nya.
Pun tampak dalam Ibadah Sabat tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan pemerintahan seperti, Felly Estelita Runtuwene, S.E., Ketua Komisi IX DPR RI, Wakil Gubernur Dr. Johanes Victor Mailangkay, S.H., M.H, Hendrik Pagiling, S.H., M.H., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Provinsi Sulawesi Utara serta Roldy Mailangkay, S.H., M.Si., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Utara.
Merekapun hadir bersama ratusan anggota jemaat dan tamu undangan yang memenuhi bagian dalam maupun halaman sekitar gedung gereja.
Namun, di tengah ramainya kehadiran para tokoh dan jemaat, terdapat sebuah momen sederhana yang justru menghadirkan pesan persaudaraan yang mendalam ketika Felly Estelita Runtuwene (FER) memasuki gedung gereja langsung disambut oleh Johanes Victor Mailangkay SH,MH dengan raut wajah sumringah serta berjabatan tangan sambil mengucapkan, Selamat Hari Sabat.
Sapaan sederhana itu kemudian berlanjut menjadi sebuah pemandangan yang menyentuh hati. Dimana kedua tokoh Nasional,Tokoh Politik serta tokoh Agama ini menyatuh dalam rangkaian Perjamuan Kudus. Bahkan keduanya duduk dalam kekusukan sambil mengikuti prosesi perjamuan kudus dengan penuh khidmat, termasuk pelayanan pembasuhan kaki kedua tokoh Nasional ini duduk berdam pingan yang menjadi , salah satu bagian penting dalam liturgi Perjamuan Kudus (GMAHK) yakni, saling basuh kaki sebagai pertanda kerendahan hati dan mau melayani sesama.
Usai itu merekapun saling berjabat tangan dan mengucapkan pengampunan. Beberapa kali momen tersebut kembali terjadi dalam suasana penuh keakraban.
Dan sebagai kakak dan adik, keduanya juga saling memberi kan cium pipi kanan dan kiri sebagai ungkapan kasih persaudaraan, dukungan, serta komitmen untuk tetap saling mendoakan bahkan Victor Johanes Mailangkai SH.MH mengungkap kan bahwa dalam pertemuan tersebut ada 4 kali mereka berjabat tangan dan saling cium pipi kanan dan cium pipi kiri.
Sementara Felly Estelita Runtuwene (FER) juga menyampai kan pesan kasih kepada semua Jemaat agar saling mendoakan dan dapat menjadi penyampai informasi tepat untuk menjadi berkat kepada orang lain.
“Tidak ada perbedaan pilihan pribadi yang menjadi penghalang bagi kasih persau daraan,” ungkap Felly.
Sementara itu tampak terlihat dua insan yang memilih untuk saling menghormati, saling mengampuni, saling mendukung, dan saling mendoakan agar tetap setia sampai Maranatha.
Alhasil, peristiwa di (RASDAC) pada Sabat itu seakan mengingat kan kembali makna terdalam dari Perjamuan Kudus. Dimana di hadapan salib Kristus, setiap manusia berdiri pada tempat yang sama. Jabatan, kedudukan, latar belakang, maupun perbedaan pilihan tidak lagi menjadi pusat perhatian. Sebab yang terutama adalah Kristus yang mengampuni dan manusia yang dipanggil untuk mengampuni.
” Perjamuan Kudus menjadi ruang untuk merendahkan hati, memperbaiki hubungan, memulihkan persaudaraan, dan memperbarui komitmen iman.” ungkap Pendeta Jim Mamarimbing
Selain itu katanya pada akhirnya, gereja bukan hanya tentang gedung yang indah dan dipenuhi manusia, akan tetapi tentang hati yang dipenuhi kasih Kristus.
“Sabat itu pun menjadi sebuah kesaksian sederhana namun kuat sebab perbedaan tidak harus memisahkan, dan kasih persaudaraan tidak harus berakhir karena perbedaan pilihan.” tandas Mamarimbing.
Di (RASDAC), Perjamuan Kudus kembali mengingatkan bahwa setiap orang yang telah menerima kasih dan pengampunan Kristus dipanggil untuk melakukan hal yang sama kepada sesamanya.
“Saling mengampuni, Saling mendukung, Saling mendoakan, dan tetap setia hingga Maranatha.” pungkasnya

(Rogam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *