Ketika Gereja Memelihara Roh Perzinahan

Oleh : Jim Robert Tindi

Kaum Awam Usai Pemilihan Pelsus GMIM

NPM,MANADO- Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus.” – 1 Korintus 6:19
Kita sering mengira roh perzinahan hanya bekerja di diskotik, di bar, atau di hotel. Padahal, musuh yang paling licik tidak menyerang dari luar, tapi menyusup ke dalam. Ia duduk di bangku gereja, menyanyi di paduan suara, bahkan naik ke mimbar pelayanan.
Ketika gereja mulai memelihara roh perzinahan, yang terjadi bukan lagi kejatuhan satu orang, tapi pembusukan satu tubuh.
Dengan Toleransi yang Salah Kaprah.
Kita berkata “kasih” tapi yang kita lakukan adalah kompromi. Dosa perzinahan yang jelas-jelas terbukti di depan mata, ditutupi dengan alasan “jangan menghakimi”. Padahal Alkitab berkata: “Usirlah orang yang jahat dari tengah-tengah kamu.” (1 Kor 5:13). Kasih tanpa kebenaran adalah racun.
Dengan Mempertahankan Pelayan yang Belum Bertobat.
Ini yang paling menyakitkan. Bagaimana mungkin tangan yang baru memeluk dosa perzinahan, besoknya mau mengangkat roti dan anggur melayani jemaat? Ingat: Mimbar pelayanan bukan tempat “cuci dosa”. Mimbar adalah tempat orang yang sudah dicuci oleh darah Yesus bersaksi tentang kekudusan.
Ketika kita membiarkan seseorang yang hidup dalam perzinahan tetap memimpin pujian, tetap berkhotbah, tetap menjadi gembala, kita sedang berkata kepada jemaat: “Dosa tidak serius. Kekudusan tidak penting.”
Dengan Diamnya Para Pemimpin.
Diam adalah persetujuan. Ketika pemimpin tahu ada perzinahan, perselingkuhan di antara pelayan, tapi memilih diam demi menjaga nama baik gereja, demi menjaga persembahan, demi menjaga kedamaian palsu — maka gereja itu sendiri sedang memelihara roh tersebut.
Roh perzinahan tidak pernah datang sendiri. Ia membawa teman-temannya: roh kebohongan, roh perpecahan, roh pemberontakan.
Jemaat menjadi tawar. Hadirat Tuhan undur perlahan. Ibadah tetap ramai, tapi kuasa pertobatan hilang. Doa tetap panjang, tapi tidak ada yang diubahkan. Mengapa? Karena Roh Kudus tidak akan berbagi bait dengan roh perzinahan.
Bagi Gereja: Lakukan disiplin gereja dengan kasih. Matius 18 jelas urutannya: tegur empat mata, bawa saksi, bawa ke jemaat. Tujuan disiplin bukan untuk mempermalukan, tapi untuk menyelamatkan jiwa dan menjaga kekudusan tubuh Kristus.
Pemimpin yang jatuh dalam perzinahan harus diturunkan dari mimbar, dipulihkan secara pribadi, bukan dipulihkan di mimbar.
Jika engkau jatuh, jangan lari ke mimbar. Larilah ke kaki salib. Bertobatlah sungguh-sungguh di tempat tersembunyi, sebelum Tuhan membukanya di tempat terang.
Gereja yang sehat bukan gereja yang tidak pernah ada dosa di dalamnya. Gereja yang sehat adalah gereja yang tidak memelihara dosa di dalamnya.
Tuhan sedang mencari gereja yang kudus, bukan gereja yang populer.
Tuhan sedang mencari pelayan yang bersih tangannya, bukan yang pandai memainkan perasaan jemaat.
Sudah waktunya kita memilih: mau menyenangkan manusia atau mau berkenan di hadapan Tuhan?
Mimbar itu kudus. Jangan kotori dengan tangan yang belum dibasuh oleh pertobatan sejati.

 

(Rogam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *