NPM, Manado – Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara tetap menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi nasional dan ketidakpastian global.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, ekonomi Sulut pada Triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,54 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y).
Capaian tersebut melanjutkan tren pertumbuhan positif Sulawesi Utara dalam lima tahun terakhir. Setelah tumbuh 4,16 persen pada 2021, ekonomi Sulut meningkat menjadi 5,42 persen pada 2022, sebesar 5,48 persen pada 2023, dan 5,39 persen pada 2024.
Adapun pada 2025, pertumbuhan ekonomi Sulut mencapai 5,66 persen atau menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Di tengah perlambatan ekonomi global dan dinamika perdagangan internasional, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Sulawesi Utara tetap bergerak kuat, terutama ditopang sektor perdagangan, jasa, konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, serta pariwisata.
Momentum penguatan ekonomi Sulawesi Utara terlihat semakin kuat pada Triwulan IV 2025 ketika pertumbuhan ekonomi mencapai 5,95 persen (y-on-y).
Pada periode tersebut, aktivitas konsumsi masyarakat, perdagangan, transportasi, dan sektor jasa meningkat cukup signifikan.
Dari sisi lapangan usaha, sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 9,97 persen sepanjang 2025. Sementara sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh sangat tinggi hingga mencapai 20,67 persen seiring meningkatnya aktivitas pariwisata dan mobilitas masyarakat.
Pada saat yang sama, ekspor luar negeri Sulawesi Utara juga menunjukkan pertumbuhan kuat. Sepanjang 2025, ekspor tumbuh sebesar 28,42 persen, sedangkan pada Triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 16,80 persen.
Peningkatan ekspor tersebut memperlihatkan semakin kuatnya konektivitas perdagangan Sulawesi Utara dengan pasar nasional maupun internasional.
Kondisi itu sekaligus mencerminkan meningkatnya daya saing ekonomi daerah di kawasan timur Indonesia.
Secara struktur, ekonomi Sulawesi Utara masih ditopang konsumsi domestik, perdagangan, dan sektor jasa.
Karakteristik tersebut membuat pertumbuhan ekonomi daerah cenderung stabil dan relatif tahan terhadap fluktuasi harga komoditas global dibanding daerah yang bergantung pada sektor ekstraktif dan pertambangan.
Pada Triwulan I 2026, ekonomi Sulawesi Utara memang mengalami kontraksi sebesar minus 8,02 persen secara quarter to quarter (q-to-q) dibanding Triwulan IV 2025. Namun, kondisi tersebut dinilai lebih dipengaruhi faktor musiman atau seasonal effect yang lazim terjadi pada awal tahun.
Aktivitas ekonomi Sulawesi Utara umumnya meningkat cukup tinggi pada akhir tahun seiring momentum Natal dan Tahun Baru, meningkatnya konsumsi rumah tangga, tingginya mobilitas masyarakat, serta percepatan realisasi belanja pemerintah.
Memasuki awal tahun, aktivitas ekonomi kembali berada pada pola normal sehingga terjadi koreksi pertumbuhan secara q-to-q. Karena itu, kontraksi pada awal tahun lebih mencerminkan normalisasi aktivitas ekonomi dibanding pelemahan fundamental ekonomi daerah.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tetap berada pada level yang cukup tinggi dan stabil. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, serta sektor jasa masih menjadi penopang utama ekonomi daerah.
Ke depan, penguatan investasi produktif, pengembangan industri pengolahan, hilirisasi komoditas unggulan daerah, penguatan ekspor, serta pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif diperkirakan menjadi faktor penting dalam menjaga akselerasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara secara berkelanjutan.
Dengan struktur ekonomi yang semakin bertumpu pada perdagangan, jasa, industri pengolahan, dan pariwisata, Sulawesi Utara dinilai mulai bergerak menuju pola pertumbuhan ekonomi yang lebih modern, adaptif, dan berdaya saing di kawasan timur Indonesia. (*/don)













