Oleh : Drevy Malalantang (Tim Ahli Gubernur Sulut)
Di tengah derasnya persaingan destinasi wisata dunia, keberanian sebuah daerah membangun identitas budaya menjadi penentu masa depan pariwisata.
Malam peresmian Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara menandai satu hal penting, di mana, Sulawesi Utara sedang memasuki babak baru kebangkitan wisata sejarah dan budaya.
Selama bertahun-tahun, wajah pariwisata Sulawesi Utara cenderung identik dengan laut, terumbu karang, dan keindahan Taman Nasional Bunaken.
Namun di era pariwisata modern, kekuatan sebuah destinasi tidak lagi hanya diukur dari panorama alamnya saja, melainkan dari kemampuannya menghadirkan identitas, cerita, dan pengalaman budaya yang autentik.
Di titik inilah keberhasilan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE layak dicatat.
Keputusan Gubernur Yulius melakukan revitalisasi museum bukan sekadar renovasi bangunan, melainkan langkah strategis membangun fondasi baru pariwisata Sulawesi Utara.
Sebuah kebijakan yang menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berbicara soal infrastruktur fisik, tetapi juga tentang peradaban, memori kolektif, dan kebanggaan identitas budaya.
Museum yang dahulu identik dengan ruang sunyi dan kuno kini berubah total. Wajahnya lebih modern, tata pamernya lebih hidup, dan pengalaman pengunjungnya lebih interaktif.
Lebih dari 2.800 koleksi sejarah dan budaya kini tampil dalam ekosistem yang nyaman, edukatif, dan layak menjadi standar museum modern di Indonesia.
Transformasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Dibutuhkan visi, komitmen, dan keberanian politik untuk menempatkan kebudayaan sebagai prioritas pembangunan.
Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE menyebut renovasi museum sebagai perjuangan panjang sejak dirinya dilantik.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa museum ini lahir dari sebuah kesadaran besar: Sulawesi Utara membutuhkan ruang yang mampu menjaga sejarah sekaligus membangun masa depan pariwisata berbasis budaya.
Keberhasilan tersebut bahkan mendapat apresiasi langsung dari Menteri Kebudayaan Prof Dr H. Fadli Zon.
Fadli menyebut Museum Negeri Sulawesi Utara sebagai salah satu museum terbaik di Indonesia.
Pernyataan itu bukan sekadar pujian diplomatis. Fadli Zon menilai museum ini memiliki koleksi yang sangat baik, tata pamer modern, serta ekosistem budaya yang kuat.
Bahkan ia mendorong agar museum segera diregistrasi secara nasional agar memperoleh Dana Alokasi Khusus sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat.
Apresiasi tersebut menjadi sinyal bahwa Sulawesi Utara kini mulai diperhitungkan dalam peta pengembangan kebudayaan nasional.
Lebih penting lagi, revitalisasi museum menunjukkan arah baru pembangunan pariwisata Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus: pariwisata yang selain menjual keindahan alam, tetapi juga menjual narasi peradaban.
Dunia pariwisata global hari ini bergerak menuju heritage tourism, educational tourism, dan experience tourism.
Wisatawan modern selain mengabadikan berfoto di destinasi indah, juga diajak Untuk belajar, mengetahui dan memahami sejarah, budaya, filosofi, dan identitas sebuah daerah.
Museum Negeri Sulut menjadi jawaban atas perubahan tren Pariwisata tersebut.
Di banyak negara maju, museum justru menjadi destinasi utama wisatawan.
Louvre Museum di Prancis, British Museum di Inggris, hingga museum-museum di Amerika dan Jepang menjadi simbol kekuatan budaya sekaligus mesin ekonomi kreatif.
Sulawesi Utara kini mulai bergerak ke arah yang sama. Museum Negeri Sulawesi Utara memiliki potensi menjadi pusat wisata sejarah dan budaya di kawasan timur Indonesia.
Kehadirannya dapat memperkuat paket wisata kota Manado, meningkatkan lama tinggal wisatawan, menghidupkan UMKM kreatif, membuka ruang pertunjukan budaya, hingga mendorong lahirnya produk merchandise berbasis kekayaan intelektual budaya lokal.
Ini yang disebut Menteri Fadli Zon sebagai Ekonomi Budaya. Di sinilah letak keberhasilan besar pemerintah Provinsi Sulut : menjadikan museum bukan lagi beban anggaran, tetapi aset ekonomi budaya (Sumber others income).
Keberhasilan revitalisasi museum ini juga memiliki landasan kebijakan yang kuat dalam pembangunan kebudayaan nasional sebagaimana diungkap Fadli Zon.
Setidaknya ada empat landasan utama yang mempertegas posisi strategis museum dalam pembangunan daerah dan bangsa.
Pertama, museum berfungsi sebagai pusat pelindungan dan pelestarian warisan budaya serta memori kolektif bangsa.
Kedua, museum menjadi ruang edukasi publik untuk membangun karakter, identitas, dan literasi sejarah generasi muda.
Ketiga, museum merupakan instrumen diplomasi budaya dan penguatan soft power Indonesia di tengah peradaban dunia.
Keempat, museum merupakan bagian dari pengembangan ekonomi budaya dan pariwisata berkelanjutan yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi kreatif.
Dalam Portofolio wisatawan manacanegara di Indonesia, lebih dari 60 persen adalah wisatawan yang tertarik pada wisata Budaya dan menduduki ranking tertinggi setelah wisatawan Nature dan Man-made.
Semua itu sejalan dengan amanat konstitusi. Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Sementara Pasal 31 UUD 1945 menegaskan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan. Dalam konteks itulah museum memiliki posisi strategis sebagai ruang pembelajaran publik, pusat literasi sejarah, dan media pendidikan kebudayaan bagi generasi muda.
Karena itu, gagasan Fadli Zon untuk mendorong siswa SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi datang ke museum merupakan langkah yang sangat penting.
Museum harus menjadi ruang belajar hidup yang mempertemukan generasi muda dengan identitas sejarah dan budayanya sendiri.
Fadli Zon bahkan menegaskan bahwa kebudayaan adalah soft power. Negara-negara besar membangun pengaruh dunia melalui budaya, museum, seni dan identitas sejarah mereka.
Indonesia, dengan ribuan suku dan bahasa, memiliki kekuatan budaya luar biasa yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Sulawesi Utara sedang menunjukkan bagaimana budaya dapat diubah menjadi kekuatan pembangunan.
Langkah Gubernur Yulius Selvanus ini sekaligus menjadi pesan penting bahwa pembangunan daerah tidak boleh tercerabut dari akar sejarah dan identitas masyarakatnya.
Sebab daerah yang maju bukan hanya daerah yang membangun gedung dan jalan, tetapi daerah yang mampu menjaga peradaban dan kebudayaannya.
Museum Negeri Sulawesi Utara hari ini bukan sekadar bangunan baru. Ia adalah simbol kebangkitan kesadaran budaya, simbol keberanian membangun identitas daerah, dan simbol arah baru pariwisata Sulawesi Utara menuju kelas dunia.
Dan Sulawesi Utara sedang mengirim pesan kepada Indonesia: masa depan pariwisata juga ada di ruang-ruang budaya yang menjaga ingatan sebuah bangsa. (**)













