Pengembangan Paket Wisata dengan Konsep “Value Chain”

Oleh: Dr. Drevy Malalantang
(Tim Ahli Gubernur Sulawesi Utara)

Pariwisata modern tidak lagi dapat dibangun dengan pola lama yang hanya menjual keindahan alam atau destinasi semata. Kompetisi industri pariwisata global saat ini bergerak jauh lebih kompleks.

Wisatawan bukan sekadar mencari tempat untuk dikunjungi, melainkan pengalaman yang berkesan, otentik, terintegrasi, dan memiliki nilai emosional.

Karena itu, pengembangan paket wisata harus mulai diarahkan pada konsep value chain tourism atau rantai nilai pariwisata, yakni bagaimana sebuah perjalanan wisata mampu menggerakkan banyak sektor ekonomi secara bersamaan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Hal inilah yang menjadi salah satu pokok pemikiran yang dipaparkan dalam kegiatan fasilitasi sertifikasi kompetensi tenaga kerja bidang pemandu wisata pemula.

Di mana, kegiatan itu dilaksanakan Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara di Hotel Ibis Boulevard Manado, Selasa (19/05) dengan menghadirkan Staf Ahli Gubernur sebagai keynote speaker.

Dalam kegiatan tersebut, nara sumber menekankan bahwa tantangan terbesar pariwisata Sulawesi Utara saat ini bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, akan tetapi menciptakan kualitas pengalaman wisata yang mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih luas.

Pariwisata berkualitas bukan sekadar angka kunjungan. Pariwisata berkualitas adalah ketika wisatawan tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak uang, menikmati lebih banyak aktivitas, serta terhubung dengan kehidupan dan budaya masyarakat lokal.

Inilah esensi dari amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Pariwisata yang menekankan pentingnya produk wisata berdaya saing, pengalaman unik, inovasi, nilai tambah tinggi, dan keberlanjutan.

Konsep ini juga sejalan dengan visi pembangunan pariwisata Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, yang mendorong pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi daerah berbasis potensi lokal.

Dalam perspektif pembangunan ekonomi modern, sebuah destinasi wisata tidak boleh berdiri sendiri. Destinasi harus dihubungkan dengan rantai ekonomi lain seperti kuliner, budaya, UMKM, ekonomi kreatif, olahraga wisata, wellness tourism, edukasi, hingga produk ekspor lokal.

Konsep inilah yang saya sebut sebagai “Hilirisasi Paket Wisata”. Hilirisasi paket wisata diadopsi dari konsep Value Chain – Porter, yang menekankan bahwa sebuah produk akan memiliki nilai lebih tinggi jika terhubung dengan proses ekonomi lainnya.

Dalam konteks pariwisata, wisatawan tidak hanya membeli perjalanan, tetapi membeli pengalaman konsumsi secara menyeluruh sebagaimana juga dijelaskan oleh Kotler & Bowen.

Karena itu, paket wisata masa depan harus dirancang berbasis: activity based tourism,
experience based tourism, creative economy integration, health and wellness integration, serta sport tourism integration.

Rumus sederhananya adalah: Destinasi + Aktivitas + Cerita + Produk Lokal + Event Experience. Dari kombinasi itulah lahir paket wisata yang memiliki daya jual tinggi sekaligus menciptakan dampak ekonomi luas bagi daerah.

Sebagai contoh, wisatawan yang datang ke Sulawesi Utara tidak cukup hanya menikmati panorama Bunaken atau dataran tinggi Minahasa.

Mereka harus diarahkan untuk menikmati kuliner khas, mengunjungi sentra UMKM, mengikuti festival budaya, mencoba aktivitas olahraga wisata, menikmati wellness tourism berbasis alam dan kesehatan, hingga membeli produk kreatif lokal.

Ketika rantai nilai itu terbentuk, maka efek ekonomi pariwisata akan jauh lebih besar dibandingkan wisata konvensional.
Inilah mengapa peran pemandu wisata menjadi sangat strategis.

Pemandu wisata bukan lagi sekadar penunjuk arah perjalanan, tetapi menjadi storyteller, experience creator, sekaligus penghubung wisatawan dengan ekosistem ekonomi lokal.

Seorang pemandu wisata harus mampu membangun narasi, menghadirkan pengalaman, dan menciptakan koneksi emosional antara wisatawan dengan destinasi.

Sulawesi Utara memiliki modal besar untuk menjalankan konsep ini. Kita memiliki kekuatan wisata bahari, budaya, kuliner, sport tourism, wellness tourism, hingga ekonomi kreatif yang sangat potensial untuk diintegrasikan dalam satu rantai nilai pariwisata.

Karena itu, masa depan pariwisata Sulawesi Utara tidak boleh lagi hanya berbicara tentang jumlah wisatawan. Masa depan pariwisata kita harus berbicara tentang kualitas pengalaman, nilai tambah ekonomi, kesejahteraan masyarakat lokal, dan keberlanjutan daerah.

Pariwisata yang berhasil adalah pariwisata yang mampu menciptakan pergerakan ekonomi yang hidup, berkelanjutan dan dirasakan langsung oleh masyarakat. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *