YSK-Victory Terbebani Hutang Lama, Upaya Bangun Sulut Terhalang Efisiensi

Suasana Coffee Morning bersama Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, di Graha Gubernuran, Rabu (26/08/2026). (foto: donny)

NPM, Manado – Membangun daerah adalah tugas wajar bagi seorang gubernur yang menakhodai provinsi.

Begitu pula dengan duet Yulius Selvanus – Johannes Victor Mailangkay yang memiliki keinginan besar membangun sarana dan prasarana publik di Sulawesi Utara.

Namun semangat membangun itu harus berhadapan dengan realitas *kebijakan efisiensi anggaran.

Hal ini disampaikan langsung Gubernur Yulius Selvanus di hadapan para jurnalis Pemprov Sulut dalam kegiatan Coffee Morning di Graha Gubernuran, Rabu (26/08/2026).

“Ini yang menjadi kendala, efisiensi. Malah banyak yang berlomba-lomba meminta proyek,” curhat Gubernur Yulius.

Menurut Gubernur, kepemimpinannya saat ini tidak hanya dituntut membangun, tetapi juga diberatkan dengan hutang-hutang dari kepemimpinan sebelumnya.

Kondisi ini membuat ruang gerak untuk program pembangunan baru menjadi terbatas, di tengah tingginya ekspektasi masyarakat.

Efisiensi yang diterapkan pemerintah pusat menjadi dilema tersendiri bagi daerah yang sedang dalam semangat membangun infrastruktur dan meningkatkan pelayanan publik.

Gubernur juga menyayangkan adanya pihak-pihak yang sengaja melakukan bullying terhadap kepemimpinannya, baik melalui media sosial maupun opini miring.

“Dari sekian banyak kebaikan yang dibuat, namun satu kesalahan saja dibuat viral, seakan-akan kinerja selalu buruk. Ini karena kecenderungan manusia yang lebih mudah mengingat hal buruk,” ujarnya.

“Sedikit-sedikit minta saya mundur lah. Apalagi komentar miring di akun sosmed bodong,” sesalnya.

Meski demikian, Gubernur menegaskan komitmen duet YSK-Victory untuk tetap mengutamakan program yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Pemprov Sulut akan memprioritaskan anggaran pada sektor-sektor mendesak seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur dasar, dan penguatan ekonomi kerakyatan.

“Kami tetap jalan, tapi harus cerdas memilih skala prioritas. Jangan sampai karena ingin menyenangkan semua pihak, akhirnya tidak ada yang selesai,” tegas Yulius. (don)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *