Sulawesi Utara Memulai Lompatan Baru Pariwisata Global

Istimewa

Oleh : Drevy Malalantang (Tim Ahli Gubernur Sulut)

Perubahan manajemen hotel dari Novotel Accor menjadi Courtyard by Marriott di Manado bukan sekadar pergantian nama dan operator hotel, prosesnya membutuhkan waktu, due diligence, serta koordinasi intensif antara owner, operator lama, operator baru, franchisor, investor, dan stakeholder lainnya.

Dalam industri hospitality modern, pergantian manajemen merupakan sebuah transformasi menyeluruh terhadap tata kelola dan arah bisnis hotel. Dibalik perubahan itu, tersimpan pesan strategis tentang arah baru pembangunan pariwisata Sulawesi Utara di era kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE.

Masuknya jaringan Marriott International sesungguhnya adalah indikator meningkatnya kepercayaan pasar global terhadap masa depan Sulawesi Utara.

Dalam industri pariwisata dunia, brand internasional tidak hadir tanpa membaca prospek daerah secara menyeluruh dari berbagai aspek relevan diantaranya stabilitas pemerintahan, potensi wisata, arah pembangunan ekonomi, konektivitas, hingga kesiapan sumber daya manusia.

Karena itu, transformasi hotel internasional di Sulut harus dibaca lebih jauh sebagai bagian dari momentum naik kelasnya pariwisata Sulawesi Utara.

Marriott International tidak hanya membangun hotel, tetapi juga ikut membentuk citra sebuah destinasi melalui jaringan pemasaran global, standar hospitality internasional, loyalitas pelanggan, hingga kemampuan menghadirkan wisatawan premium dan event internasional.

Dalam banyak kasus, kehadiran Marriott menjadi “confidence signal” bahwa suatu daerah dianggap layak dan potensial untuk pasar wisata global.

Hal ini sangat relevan dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara 2025-2029 yakni “Menuju Sulawesi Utara Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan.”

Visi tersebut dijabarkan melalui delapan misi strategis, termasuk membangun perekonomian daerah, memperkuat daya saing internasional, meningkatkan kualitas SDM, serta mengembangkan ekonomi berbasis inovasi.

Dalam konteks itu, sektor pariwisata menjadi salah satu instrumen utama untuk mendorong transformasi ekonomi Sulawesi Utara.

Selama ini Manado dikenal sebagai pintu gerbang wisata bahari dunia melalui Bunaken. Namun sesungguhnya Sulawesi Utara memiliki potensi jauh lebih besar: wisata heritage-budaya, geopark, marine geopark, pegunungan, kuliner, wellness tourism, konservasi, wisata religi, hingga MICE tourism.

Sulut memiliki potensi pariwisata biru yang sangat kuat memalui konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan. Tantangannya adalah bagaimana terus membangun citra destinasi yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Dalam rilis 10 Biggest Hotel Companies (investopedia, Matthew Johnston, January 2026) Marriott menempati ranking pertama dengan Market kapitalisasi sebesar $86.77 billion, berturut-turut ranking pertama Marriott International, berikut Hilton Worldwide Holdings, Las Vegas Sands, Galaxy Entertainment, Hyatt Hotels, Host Hotels & Resorts, Wynn Resorts, Accor, MGM Resorts, dan kesepuluh ‬‬‬Genting Berhad. (Lihat infografis).

Masuknya Courtyard by Marriott menjadi salah satu sinyal bahwa Manado-Sulut masuk dalam radar pasar wisata global.

Courtyard by Marriott adalah merek terbesar kedua di bawah payung Marriott International berdasarkan jumlah properti, dengan lebih dari 1.360 hotel di 65 negara dan wilayah di seluruh dunia, menjadikannya pemimpin di segmen upper-midscale.

Marriott membawa jaringan loyalitas internasional, sistem pemasaran global, standar hospitality kelas dunia, dan akses terhadap wisatawan premium.

Efeknya bukan hanya pada tingkat hunian hotel, tetapi juga pada persepsi internasional terhadap Manado-Sulawesi Utara sebagai destinasi yang semakin siap menerima wisatawan dan investor dunia.

Bagaimana Marriott membantu membangun citra sebuah Destinasi? Mereka Membawa Wisatawan Loyal Global, Program Marriott Bonvoy memiliki jutaan anggota dunia. Ketika Marriott membuka hotel baru, destinasi tersebut otomatis masuk dalam radar wisatawan loyal mereka.

Meningkatkan Kepercayaan Investor, Brand global memberi sinyal bahwa daerah itu aman dan prospektif untuk investasi, Membantu Promosi Internasional, Membentuk Standar Hospitality dan Memperkuat Segmen Premium Tourism.

Transformasi ini juga sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Kepariwisataan, yang menegaskan bahwa pembangunan pariwisata Indonesia harus diarahkan pada pariwisata berkualitas, berkelanjutan, berdaya saing global, dan berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.

Undang-undang tersebut menekankan bahwa pariwisata bukan hanya soal kunjungan wisatawan, tetapi juga menyangkut: peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan budaya lokal, penciptaan lapangan kerja, pembangunan ekonomi hijau dan biru, serta transformasi digital destinasi wisata.

Menariknya, arah kebijakan itu sangat selaras dengan RPJMD pemerintahan Yulius Selvanus-Victor Mailangkay yang mulai mendorong konsep smart tourism, ekonomi biru, promosi berbasis teknologi, penguatan UMKM, kearifan lokal dan budaya, hingga peningkatan daya saing internasional Sulawesi Utara.

Artinya, masuknya Courtyard by Marriott , berikut dirampungkannya property lainnya; Manado Marriot Resort & Spa di Likupang Barat, sebelumnya Group Anhui Conch Venture Capital yang telah mengakusisi dan mengoperasikan NDC Resort & Spa, berikut rencana pembanguan The Westin Manado di pesisir Malalayang.

Serentetan investasi pariwisata itu bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ini adalah bagian dari perubahan ekosistem pariwisata Sulawesi Utara menuju destinasi modern yang lebih kompetitif.

Tentu saja, hotel dengan jaringan internasional otomatis akan bekerja keras memasarkan dan menghadirkan wisatawan global, namun daerah harus terus bersiap secara menyeluruh.

Pemerintah kabupaten/kota, pemangku kepentingan, masyarakat di Sulut wajib mendukung dan berperan mengembangkan destinasi diwilayahnya, setidaknya ada destinasi unggulan yang memiliki tatakelola yang representatif dengan karakter daya tarik wilayahnya.

Sulawesi Utara masih menghadapi tantangan besar pada konektivitas penerbangan internasional yang saat ini terus upayakan oleh pemerintah Sulawesi Utara, menyusul Singapura, China, Korea, berikut Japan dan Philipina yang sedang dijajaki, Sulut masih membutuhkan lebih banyak direct flight internasional dari negara-negara Asia Pasifik lainnya untuk mewujudkan sebagai “Gerbang Pasifik”.

Selain itu, kualitas SDM pariwisata juga harus ditingkatkan. Brand internasional membutuhkan tenaga kerja hospitality dengan kemampuan bahasa asing, digital tourism, service excellence, dan pemahaman lintas budaya.

Di sisi lain, masyarakat lokal harus menjadi bagian utama dari pertumbuhan ini. Sebab Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 secara jelas menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan pariwisata.

Hotel besar harus mampu menciptakan efek berganda bagi UMKM kuliner, ekonomi kreatif, transportasi lokal, produk budaya, hingga tenaga kerja daerah. Karena pada akhirnya, wisatawan tidak hanya membeli kamar hotel.

Mereka membeli pengalaman tentang sebuah daerah: budaya, keramahan, kebersihan kota, keamanan, pelayanan, dan identitas lokal.

Masuknya brand-brand internasional ke Sulawesi Utara pada akhirnya bukan hanya tentang pembangunan hotel baru.

Ini adalah ujian sekaligus peluang besar: apakah Sulawesi Utara mampu tumbuh menjadi destinasi internasional yang sesungguhnya, atau sekadar menjadi pasar bagi jaringan global?

Jawabannya terletak pada kemampuan pemerintah, dunia usaha, pelaku industri pariwisata, akademisi, dan masyarakat untuk membangun ekosistem pariwisata yang visioner, modern dan berkelanjutan.

Sebab, di era baru pariwisata dunia, yang dijual bukan hanya keindahan alam, tetapi juga kualitas pengalaman, kekuatan budaya lokal, keramahan masyarakat, dan identitas sebuah daerah.

Sulawesi Utara memiliki seluruh modal dasar itu. Kini, momentum global mulai datang menghampiri, dan Sulawesi Utara tampaknya sedang bersiap menapaki peran barunya sebagai salah satu pusat pertumbuhan pariwisata Indonesia di kawasan Pasifik. (**)

Editor: Donny Piri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *