NPM, Manado – BPS Provinsi Sulawesi Utara merilis perkembangan lima indikator strategis ekonomi Sulut untuk periode Juli–Agustus 2026.
Data mencakup inflasi, sektor pertanian, perdagangan luar negeri, pariwisata, hingga transportasi.
Pada Agustus 2026 Sulawesi Utara mengalami inflasi sebesar 0,29 persen dibanding Juli 2026. Inflasi tahun kalender Jan–Agustus 2026 tercatat 3,68 persen dan inflasi tahunan 3,99 persen.
Penyumbang inflasi terbesar cabai rawit, angkutan udara, emas perhiasan, daun bawang, dan ikan cakalang.
Faktor penahan inflasi, bawang merah, beras, sabun mandi, lemon, dan sabun mandi cair.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan kenaikan 0,57 persen.
Nilai Tukar Petani (NTP) Sulut Agustus 2026 tercatat 126,79, turun 2,14 persen dibanding Juli 2026.
Penyebab utama subsektor hortikultura anjlok 17,47 persen karena turunnya harga tomat dan bawang merah.
Sementara subsektor perikanan, perkebunan rakyat, peternakan, dan tanaman pangan masih naik.
NTUP juga turun 3,09 persen menjadi 131,34. Ini menunjukkan kemampuan usaha pertanian menutup biaya produksi melemah.
Nilai ekspor Sulut Juli 2026 sebesar US$96,51 juta, turun 29,17 persen dibanding Juli 2025.
Namun kumulatif Jan–Juli 2026 masih naik 3,32 persen ke US$738,01 juta. Komoditas andalan lemak dan minyak hewani/nabati dengan kontribusi 72,27 persen.
Impor Juli 2026 naik 62,69 persen ke US$33,33 juta. Meski begitu neraca perdagangan tetap surplus US$63,18 juta. Kumulatif surplus Jan–Juli 2026 capai US$603,37 juta.
Kunjungan Wisman ke Sulut Juli 2026 capai 10.412 kunjungan, naik bulanan dan tahunan. Wisatawan Tiongkok mendominasi 4.372 kunjungan atau 41,99 persen.
Wisnas 1.617 perjalanan. Wisnus 1,46 juta perjalanan. TPK hotel berbintang naik jadi 47,20 persen.
Penumpang angkutan udara Juli 2026 naik 5,25 persen menjadi 156,76 ribu orang.
Jumlah kunjungan kapal turun 4,17 persen ke 942 unit. (don)













