Manado  

Wali Kota Andrei Angouw Berdialog Dengan Pemulung Sampah di TPA Sumompo

NPM, Manado – Wali Kota Manado Andrei Angouw, menyambangi kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Sumompo.

Tiba di lokasi tersebut, Wali Kota didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pontowuisang Kakauhe beserta pejabat teknis lainnya.

Di lokasi itu, Wali Kota melihat langsung kondisi (TPA) serta aktifitas bongkar aduk sampah yang dilakukan oleh escavator pasca sampah dari truk dan motor sampah dibuang di TPA.

Bukan hanya itu saja, Wali Kota bertegur sapa dengan beberapa sopir truk, petugas motor sampah hingga perkerja bahkan pemulung di lokasi tersebut.

Pun kepada sejumlah sopir, Wali Kota bertanya dari kecamatan atau kelurahan mana sampah ini datang.

Bahkan Wali Kota juga bertanya hingga pukul 09.00 pagi ketika sampai tiba di (TPA) sudah berapa banyak angkutan sampah yang dibawah kesini ?

Mendengar pertanyaan itu, sejumlah sopir mengatakan sudah dua kali bahkan ada yang baru satu kali, padahal ada yang mengangkat sampah sejak pukul 4.00 subuh.

“Ini perlu diselidiki makanisme pengangkutan sampah dan meminta Kepala Dinas untuk melakulan rapat dengan para sopir agar dapat mengetahui hambatan-hambatan dilapangan,” ucap Wali Kota.

Selain itu, katanya, bagi para sopir truck termasuk pengangkut sampah yang menggunakan motor sampah mereka ini berasal dari kelurahan- kelurahan yang berdekatan dengan (TPA).

Bukan hanya dengan petugas sampah, Walikota juga bertanya kebeberapa pemulung yang ada di lokasi. Sebab sebagian besar hidup mereka bergantung dengan (TPA) yang telah menjadi mata pencaharian sehari -hari.

Pada kesempatan itu ada testimoni menarik tatkala Wali Kota berdialog dengan seorang ibu yang sudah 26 tahun membongkar sampah ditempat ini.

Ibu Agustina Togas, pemulung dari Sitaro ini telah memulung sejak tahun 2000 dan sekarang sudah berumur 47 tahun.

Wanita paro Bayah ini berkeluh kesah dengan Walikota bahkan bermohon agar TPA ini tidak dipindahkan.

“Pak wali kota tolong TPA ini tetap disini karena hasil memulung ini saya dapat menyekolahkan 4 orang anak dan bahkan dua orang anaknya sudah menikah,” koar ibu ini memelas.

Ia berharap agar TPA ini tidak dipindahkan. sebab lokasi ini sudah menjadi tempat pencaharian sehari-hari kami.

“Torang pe hidup keluarga sangat tergantung di TPA ini,” ungkap para pemulung serentak.

(Rogam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *