NPM, MANADO – Gubernur Provinsi Sulawesi Utara Yulius Selvanus mengatakan, Muslimat NU tak dapat dipisahkan dengan pemerintah daerah.
Sebab masih ada tanda-tanda Muslimat mau berpartisipasi kepada bangsa dan negara.
Demikian kata Gubernur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Kominfo DR Zainuddin Saleh Halimi dalam tasyakuran Muslimat NU ke 80 yang berlangsung di aula Mapalus Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (4/5/26).
Acara yang dihadiri seribuan warga Muslimat terdiri dari seluruh pengurus cabang Muslimat se Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo.
Dalam kesempatan tersebut Gubernur mengajak umumnya warga Nahdliyyin untuk bersama-sama membangun daerah Sulawesi Utara.
Sementara itu Sekretaris Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat NU Haja Sitti Aniroh, atas tertundanya kehadiran Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Penundaan dikarenakan Khofifah menerima penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri, yang tidak bisa diwakilkan.
“Memang kerinduan ibu Khofifah ingin bertemu dengan pengurus muslimat bukan saja yang ada di Sulut tapi diharapkan sampai Gorontalo dan Maluku Utara,” ujarnya.
Ketua PWNU Sulut Dr KH Ulyas Taha , dalam sambutan singkat menaruh perhatian kepada muslimat yang begitu aktif dalam petgerakannya.
Pada kesempatan itu juga dibacakan sikap protes muslimat kepada sekjen PBB oleh dua perwakilan.
Pertama Wakil Sekretaris Yulianti Nasaru menggunakan bahasa Indonesia.
Kedua oleh Ketua Muslimat kota Manado Dr Delli Sabudu yang menggunakan bahasa Inggris.
Sebelumnya Ketua Periodik Muslimat NU juga selaku Ketua Panitia Tasyakuran Hj Memi Otta, melaporkan berbagai kegiatan yang dilaksanakan Muslimat NU.
Sementara Ketua Muslimat Sulut Hj Sartje Mokoginta berharap silaturahmi dengan pemerintah harus dipelihara dengan baik.
“Semoga silaturahmi antara Muslimat NU dan pemerintah bisa terus berjalan dengan baik,” harapnya. (rud)













