Luar Biasa! Dua Kepsek SMA Lengkong Bersaudara Terapkan Ujian Berbasis Project – Karya Tulis Ilmiah (USBP/KTI), Dorong Kreativitas dan Kemandirian Siswa

Istimewa

NPM, Minsel – Dunia pendidikan di Kabupaten Minahasa Selatan kembali menunjukkan inovasi melalui penerapan Ujian Sumatif Akhir berbasis proyek atau dikenal dengan Ujian Sekolah Berbasis Proyek (USBP) / Karya Tulis Ilmiah (KTI).

Menariknya, program ini dilaksanakan oleh dua sekolah yang dipimpin oleh kakak beradik, yakni Winsi Mahrita Lengkong SPd MM selaku Kepala SMA Negeri 1 Maesaan dan Kansia Meifie Lengkong SPd MM selaku Kepala SMAS Katolik Aquino Amurang, Senin 13 April 2026.

Penerapan USBP/KTI ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan kompetensi siswa secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan riset.

Kedua sekolah ini secara serentak mengimplementasikan model ujian berbasis proyek sebagai bagian dari transformasi pembelajaran yang berorientasi pada Profil Pelajar Pancasila.

Kepala SMA Negeri 1 Maesaan, Winsi Mahrita Lengkong, menyampaikan bahwa USBP/KTI memberikan ruang bagi peserta didik untuk menggali potensi diri melalui karya nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Melalui proyek ini, siswa tidak hanya diuji pengetahuannya, tetapi juga kemampuan mereka dalam mengaplikasikan ilmu secara langsung,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala SMAS Katolik Aquino Amurang, Kansia Meifie Lengkong SPd MM menegaskan bahwa pendekatan ini menjadi solusi dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna.

“Kami ingin siswa memiliki pengalaman belajar yang mendalam, sehingga mereka siap menghadapi tantangan di dunia nyata maupun pendidikan lanjutan,” ungkapnya.

Pelaksanaan USBP/KTI di kedua sekolah ini melibatkan berbagai tahapan, mulai dari perencanaan proyek, bimbingan oleh guru, hingga presentasi dan penilaian hasil karya.

Berbagai tema diangkat oleh siswa, mulai dari isu sosial, lingkungan, hingga inovasi sederhana yang berdampak bagi masyarakat sekitar.

Kolaborasi yang terjalin antara dua sekolah ini juga menjadi bukti bahwa semangat inovasi dapat tumbuh melalui kepemimpinan yang visioner.

Meski berada di institusi berbeda, kedua kepala sekolah tersebut menunjukkan komitmen yang sama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.

Dengan penerapan USBP/KTI ini, diharapkan siswa tidak hanya lulus secara administratif, tetapi juga memiliki bekal keterampilan abad 21 yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Program ini sekaligus menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk terus berinovasi dalam sistem evaluasi pembelajaran.

Salah satu penguji ujian, Arie Esau Toloh SE mengungkapkan bahwa secara umum kualitas karya siswa menunjukkan perkembangan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kami melihat adanya peningkatan dalam hal penyusunan metodologi, analisis data, serta kemampuan presentasi siswa. Ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis proyek sangat efektif dalam mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, siswa mempresentasikan hasil karya tulis ilmiah mereka di hadapan tim penguji, sekaligus mempertanggungjawabkan proses penelitian yang telah dilakukan.

Penilaian dilakukan secara objektif berdasarkan aspek isi, metodologi, kreativitas, serta kemampuan komunikasi.

Dengan penerapan USBP/KTI ini, SMA Negeri 1 Maesaan dan SMA Katolik Aquino Amurang terus berkomitmen untuk menghadirkan sistem pendidikan yang adaptif dan relevan dengan tuntutan zaman.

Diharapkan, lulusan yang dihasilkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan berpikir kritis, inovatif, dan siap bersaing di era global.

Arie E Toloh SE Selaku Juga Kepala Cabang Dinas Minsel – Mitra tantang seluruh SMA/SMK di minsel-mitra berinovasi dalam penyelenggaraan UAS.

Salah satunya, melaksanakan ujian berbasis project agar mampu mengukur kompetensi setiap peserta didik secara komprehensif melalui penerapan pengetahuan teoritis kedalam praktik nyata yang memadukan kreatifitas berpikir kritis, kaloborasi dan kemampuan pemecahan masalah.

Tahun ini sudah ada tiga sekolah yang telah melaksanakan, saya berharap tahun depan makin banyak sekolah lagi yang melaksanakan ujian berbasis project ini jelasnya. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *