Haryadi Wijaya, kandidat Doktor Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, dengan disertasi berjudul “Rekayasa Penyaring Air Ballast pada Kapal Latih John Lie” di bawah bimbingan Prof. Ir. Kawilarang Warouw Alex Masengi, M.Sc, Ph.D sebagai Promotor, serta Prof. Dr. Ir. Lefrand Manoppo, M.Si dan Vivanda O.J. Modaso, S.Pi, M.Sc, Ph.D sebagai Co-Promotor.
Penelitian ini menekankan treatment melalui filtrasi air ballast untuk memenuhi standar D2 International Maritime Organization (IMO) Ballast Water Management Convention, yang mengatur agar air ballast yang dibuang ke laut hanya menyisakan maksimal sepuluh organisme hidup per meter kubik.
Dalam risetnya, Haryadi melakukan treatment melalui penyaringan dengan variasi ukuran mesh 10 mikron, 5 mikron, dan 1 mikron. Uji coba dan treatment dilakukan di Kapal Latih John Lie milik Politeknik Pelayaran Sulawesi Utara, dengan pengambilan sampel di Pelabuhan Amurang dan Bitung. Analisis laboratorium dilakukan menggunakan metode mikrobiologi standar Total Plate Count (TPC) di dua institusi independen, yaitu Water Laboratory Nusantara (WLN) Manado dan Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI).
Hasil pengujian menunjukkan bahwa filter 1 mikron paling efektif, mampu menurunkan jumlah mikroorganisme hingga 90% sehingga memenuhi standar IMO D2. Filter 5 mikron hanya efektif di satu lokasi, sedangkan filter 10 mikron belum sepenuhnya memenuhi standar. Penelitian ini menegaskan bahwa treatment berbasis filtrasi mekanis lebih ramah lingkungan dibandingkan metode kimia, karena tidak menghasilkan residu berbahaya bagi ekosistem laut. Temuan ini memberikan manfaat menambah wawasan akademik dan teknis melalui hasil laboratorium yang dilakukan dengan metode mikrobiologi standar Total Plate Count (TPC) di Water Laboratory Nusantara (WLN) dan Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI).
Meskipun penelitian ini menunjukkan efektivitas tinggi dari filter berukuran 1 mikron dalam menurunkan jumlah mikroorganisme hingga memenuhi standar IMO D2, terdapat sejumlah keterbatasan yang perlu dicatat. Salah satu kekurangan utama adalah risiko penyumbatan (clogging) pada filter berukuran sangat kecil. Kondisi ini dapat mengganggu kelancaran proses penyaringan dan menuntut adanya perawatan serta pemeliharaan rutin agar tetap berfungsi optimal. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan efektivitas berdasarkan lokasi pengambilan sampel di Pelabuhan Amurang dan di Pelabuhan Bitung, yang menandakan bahwa kondisi lingkungan perairan dapat memengaruhi kinerja sistem filtrasi.
Keterbatasan lain terletak pada skala penerapan. Uji coba dilakukan pada tangki ballast berkapasitas 80 m³ milik Kapal Latih John Lie, sehingga efektivitas sistem ini pada kapal dengan kapasitas jauh lebih besar masih memerlukan penelitian lanjutan. Treatment yang dikembangkan juga masih bersifat sederhana dan belum dapat sepenuhnya menggantikan sistem Ballast Water Treatment (BWT) komersial yang telah tersertifikasi oleh IMO. Dengan demikian, meskipun penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teknologi filtrasi mekanis yang efisien dan ramah lingkungan, hasilnya tetap harus dipandang sebagai langkah awal yang membutuhkan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat diimplementasikan secara luas pada kapal-kapal dengan berbagai ukuran dan rute operasional. (bds)













